Makalah tentang Teknologi Manusia Purba pada Zaman Logam

KATA PENGANTAR

 

         Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayahNya kepada kami dan tak lupa bershalawat pada Nabi Muhammad S.A.W sehingga kami dapat menyelesaikan karya tulis ini sesuai dengan yang kami harapkan.

                        Makalah yang berjudul “Teknologi Manusia Purba Pada Zaman Logam“ ini dibuat dengan tujuan memenuhi tugas dalam pelajaran Sejarah Indonesia pada tahun ajaran 2013-2014. Kami berharap agar makalah  ini dapat memberikan manfaat bagi para pembacanya.

                        Kami menyadari bahwa penulisan ataupun pembahasan karya tulis ini masih jauh dari kata sempurna, sehingga akan menjadi suatu kehormatan besar bagi kami apabila mendapatkan kritikan dan saran yang membangun sehingga selanjutnya akan lebih baik dan sempurna.

 

 

 

                                   Penulis

Ternate, 20 Oktober 2013

 

 

PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang

 

      

          Pada Masa Prasejarah Manusia sudah mempunyai ketrampilan, para manusia purba dahulu mampu membuat rumah sedeharna, alat-alat untuk berburu dan benda-benda lainnya. Maka dari itu pada zaman prasejarah dibagi menjadi beberapa tahap, namun yang akan kami bahas disini adalah Zaman Logam.

          Pada zaman logam, manusia sudah dapat membuat peralatan dari logam yang ternyata lebih kuat dan mudah dikerjakan daripada batu. Bahan logam harus dilebur dahulu sebelum dipakai sebagai bahan pembuatan peralatan manusia. Oleh karena itu, pada zaman logam, kebudayaan manusia mestinya lebih tinggi daripada zaman batu.

 

B. Tujuan

 

Tujuan penulisan makalah ini tidak lain untuk:

1. Memenuhi salah satu tugas kelompok kami.

2. Mengetahui keadaan pada zaman Logam

3. Mengetahui benda benda yang dibuat pada zaman Logam

4. Mengetahui perkembangan manusia purba pada zaman Logam.

 

C. Rumusan Masalah

 

Berdasarkan materi kami, dapat kami uraikan rumusan masalah sebagai berikut.

1. Bagaimana keadaan pada zaman logam?

2. Apa saja yang dihasilkan manusia purba pada zaman logam?

3. Apa benda benda pada zaman logam masih ada?

4. Bagaimana perkembangan zaman Logam di Indonesia?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PEMBAHASAN

 

 

Zaman Logam


      Zaman logam masuk ke Indonesia sekitar tahun 500 SM, yaitu setelah menerima pengaruh dari kebudayaan Dongsong (Vietnam). Pada zaman ini orang sudah dapat membuat alat-alat dari logam di samping alat-alat dari batu. Orang sudah mengenal teknik melebur logam, mencetaknya menjadi alat-alat yang diinginkan. Teknik pembuatan alat logam ada dua macam, yaitu dengan cetakan batu yang disebut bivalve dan dengan cetakan tanah liat dan lilin yang disebut a cire perdue. Periode ini juga disebut masa perundagian karena dalam masyarakat timbul golongan undagi yang terampil melakukan pekerjaan tangan. Zaman logam ini dibagi atas: Zaman perunggu dan zaman besi. Namun Indonesia hanya mengalami Zaman perunggu sehingga zaman logam juga disebut zaman perunggu.

Pada zaman ini manusia purba sudah dapat mencampur tembaga dan timah dengan perbandingan 3 : 10 sehingga diperoleh logam yang lebih keras. Alat-alat perunggu pada zaman ini antara lain :
– Kapak Corong
– Nekara Perunggu (Moko)
– Benjana Perunggu
– Arca Perunggu
– Perhiasan Perunggu

 

Alat Alat Pada Zaman Logam

Hasil-hasil kebudayaannya di antaranya:

1.      Nekara Perunggu

Nekara adalah semacam genderang dari perunggu yang Berpinggang di bagian tengahnya dan sisi atasnya tertutup, jadi kira-kira sama dengan dandang yang ditelungkupkan. Nekara yang ditemukan di Indonesia ada yang mempunyai ukuran besar dan ukuran kecil. Nekara yang ditemukan di Pejeng, Bali adalah nekara dalam ukuran besar. Nekara ini bergaris tengah 160 cm dan tinggi 186 cm. Benda ini sekarang disimpan di pura Panataransasih, Gianyar, Bali. Nekara ini sangat dipuja oleh masyarakat. Tidak semua orang dan setiap waktu orang bisa melihatnya karena nekara ini dianggap barang suci, yang hanya dipergunakan waktu upacara-upacara saja, yaitu dengan cara ditabuh untuk memanggil arwah atau roh nenek moyang. Nekara perunggu banyak ditemukan di Sumatera, Jawa, Bali, Pulau Sangean dekat Sumbawa, Roti, Leti, Selayar, dan Kepulauan Kei. Di Alor banyak pula terdapat nekara, tetapi lebih kecil dan ramping daripada yang ditemukan di lain tempat. Nekara yang demikian itu, biasa disebut moko, dan sangat dihargai penduduk sebagai barang pusaka atau mas kawin. Hiasan-hiasan pada nekara itu sangat indah berupa garis-garis lurus dan  bengkok, pilin-pilin dan gambar geometris lain nya, binatangbinatang (burung, gajah, merak, kuda, rusa), rumah, perahu, orangorang berburu, tari-tarian, dan lain-lain. Dari berbagai lukisan kita mendapat gambaran tentang penghidupan dan kebudayaan yang ada pada masa itu.

2.      Kapak Corong
Kapak Corong bentuk bagian tajamnya seperti kapak batu, hanya bagian tangkainya berbentuk corong. Maka, kapak ini disebut juga Kapak Corong atau Kapak Sepatu. Kapak corong ditemukan di Sumatera Selatan, Jawa, Bali, Sulawesi Tengah dan Selatan, Pulau Selayar dan di Irian dekat Danau Sentani. Bentuk kapak ini sangat banyak, jenisnya ada yang kecil, ada yang besar disertai hiasan, ada yang pendek lebar, ada yang bulat, dan ada pula yang panjang satu sisinya. Kapak Corong yang memiliki panjang satu sisi disebut candrasa, bentuknya sagat indah dan penuh hiasan. Fungsinya sebagai tanda kebesaran dan alat upacara keagamaan. Kadang-kadang kapak tersebut dihiasi gambar-gambar mata yang oval atau juga dengan ragam hias garis-garis geometris dan pilin berganda (double spiral).

3.      Bejana Perunggu

Bejana ditemukan di tepi Danau Kerinci dan di Madura bentuknya seperti periuk, tetapi langsung dan gepeng. Keduanya mempunyai hiasan yang serupa dan sangat indah berupa gambar-gambar geometri dan pilinpilin yang mirif huruf J. Pada Bejana di Madura dihiasi dengan gambar burung merak dan rusa dalam kotak-kotak segitiga. Selain di Madura dan Kerinci, Bejana seperti ini juga ditemukan di Pnom Penh (Kamboja), maka tidak dapat disanksikan lagi bahwa kebudayaan logam di Indonesia memang termasuk satu golongan dengan kebudayaan logam Asia yang berpusat di Dongson itu. Itulah sebabnya, zaman perunggu di Indonesia ini lebih dikenal dengan nama Kebudayaan Dongson.

4.      Arca-arca Perunggu

Arca Perunggu yang ditemukan berupa arca yang menggambarkan orang yang sedang menari, berdiri, naik kuda, dan ada yang sedang memegang panah. Ada juga yang  menggambarkan binatang antara kuda dan kerbau, tetapi semua arca  bentuknya kecil-kecil, yaitu berukuran 5 – 15 cm. Arca tersebut ditemukan di Bangkinang (Riau), Lumajang, Bogor, dan Palembang.

5.      Perhiasan Perunggu

Selain Kapak Corong dan Nekara banyak pula bendabenda lainnya dari zaman perunggu yang didapatkan, sebagian besar berupa barangbarang perhiasan, seperti gelang, binggel (gelang kaki), anting-anting, kalung, dan cincin. Benda-benda itu ditemukan  di Bogor, Bali, dan Malang. Banyak perhiasan yang ditemukan sebagai bekal kubur. Di samping benda-benda perunggu, zaman logam juga menghasilkan barang-barang dari besi meskipun jumlahnya tidak banyak. Jenis barang-barang besi yang dibuat pada zaman logam antara lain kapak, sabit, pisau, tembilang, pedang, cangkul dan tongkat.

Sosial Ekonomi

1. Mampu membuat alat dari logam
2. Masyarakat pada masa perundagian diperkirakan sudah mengenal pembagian kerja.
3. adanya pedagang yang memperjualbelikan logam.
4. sudah mengenal sistem kemasyarakatan yang teratur. Masyarakat hidup diikat oleh norma-norma dan nilai.
5. Dikenalnya penguburan mayat
6.  Food producing
7. Tinggal menetap (karena dikenalnya kegiatan bersawah)

Teknik pembuatan alat-alat perunggu

 

  1. a cire perdue
caranya adalah membuat bentuk benda yang dikehendaki dengan lilin, setelah membuat model dari lilin maka ditutup dengan menggunakan tanah, dan dibuat lubang dari atas dan bawah. Setelah itu dibakar, sehingga lilin yang terbungkus dengan tanah akan mencair, dan keluar melalui lubang bagian bawah. Untuk selanjutnya melalui lubang bagian atas dimasukkan cairan perunggu, dan apabila sudah dingin, cetakan tersebut dipecah sehingga keluarlah benda yang dikehendaki.

  2. bivalve
  caranya yaitu menggunakan cetakan yang ditangkupkan dan dapat dibuka, sehingga setelah dingin cetakan tersebut dapat dibuka, maka keluarlah bendayang dikehendaki. Cetakan tersebut terbuat dari batu ataupun kayu.

Kepercayaan

1. Animisme:
  Dalam kepercayaan animisme, manusia mempunyai anggapan bahwa suatu benda memiliki kekuatan supranatural dalam bentuk roh.

2.Dinamisme
  Roh atau makhluk halus yang diyakini berasal dari jiwa manusia yang meninggal, kemudian mendiami berbagai tempat, misalnya hutan belantara, lautan luas, gua-gua, sumur dalam, sumber mata air, persimpangan jalan, pohon besar, batu-batu besar, dan lain-lain.

 

3. Totemisme
Adanya anggapan bahwa binatang-binatang juga mempunyai roh, itu
disebabkan di antara binatang-binatang itu ada yang lebih kuat dari manusia,
misalnya gajah , harimau, buaya, dan ada pula yang larinya lebih cepat dari
manusia.

 

 

 

PENUTUP

 

A. Saran

 

– Pada zaman prasejarah manusia purba sudah mampu membuat alat alat yang berguna, maka dari itu kita dengan kemajuan teknologi yang sudah ada harus mampu melakukan lebih dari masa lalu.

– Mengembangkan apa yang sudah ada dengan terus berkembangnya teknologi.

– Mempertahankan kebudayaan yang sudah ada dengan cara melestarikannya.

 

 

B. Kesimpulan

Pada Zaman Logam manusia sudah mampu membuat peralatan dari
perunggu. Perunggu merupakan logam campuran antara tembaga dengan
timah. Pada zaman logam di Indonesia hampir semua menggunakan perunggu, sehingga pada zaman logam lebih identik dengan zaman perunggu.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s