Berbagai Taman Nasional dan Cagar Alam

  TUGAS 6

TAMAN NASIONAL

 

1. TAMAN NASIONAL TELUK CENDRAWASIH 

Taman Nasional Teluk Cendrawasih merupakan perwakilan ekosistem terumbu karang, pantai, mangrove dan hutan tropika daratan pulau di Papua/Irian Jaya.

Taman Nasional Teluk Cendrawasih merupakan taman nasional perairan laut terluas di Indonesia, terdiri dari daratan dan pesisir pantai (0,9%), daratan pulau-pulau (3,8%), terumbu karang (5,5%), dan perairan lautan (89,8%).

Potensi karang Taman Nasional Teluk Cendrawasih tercatat 150 jenis dari 15 famili, dan tersebar di tepian 18 pulau besar dan kecil. Persentase penutupan karang hidup bervariasi antara 30,40% sampai dengan 65,64%. Umumnya, ekosistem terumbu karang terbagi menjadi dua zona yaitu zona rataan terumbu (reef flat) dan zona lereng terumbu (reef slope). Jenis-jenis karang yang dapat dilihat antara lain koloni karang biru (Heliopora coerulea), karang hitam (Antiphates sp.), famili Faviidae dan Pectiniidae, serta berbagai jenis karang lunak.

Taman Nasional Teluk Cendrawasih terkenal kaya akan jenis ikan. Tercatat kurang lebih 209 jenis ikan penghuni kawasan ini diantaranya butterflyfish, angelfish, damselfish, parrotfish, rabbitfish, dan anemonefish.

 

 

 

 

 

Jenis moluska antara lain keong cowries (Cypraea spp.), keong strombidae (Lambis spp.), keong kerucut (Conus spp.), triton terompet (Charonia tritonis), dan kima raksasa (Tridacna gigas).

Terdapat empat jenis penyu yang sering mendarat di taman nasional ini yaitu penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu hijau (Chelonia mydas), penyu lekang (Lepidochelys olivaceae), dan penyu belimbing (Dermochelys coriacea). Duyung (Dugong dugon), paus biru (Balaenoptera musculus), ketam kelapa (Birgus latro), lumba-lumba, dan hiu sering terlihat di perairan Taman Nasional Teluk Cendrawasih.

Terdapat goa alam yang merupakan peninggalan zaman purba, sumber air panas yang mengandung belerang tanpa kadar garam di Pulau Misowaar, goa dalam air dengan kedalaman 100 feet di Tanjung Mangguar. Sejumlah peninggalan dari abad 18 masih bisa dijumpai pada beberapa tempat seperti di Wendesi, Wasior, dan Yomber. Umat Kristiani banyak yang berkunjung ke gereja di desa Yende (Pulau Roon), hanya untuk melihat kitab suci terbitan tahun 1898.

Cara pencapaian lokasi: Dari Jakarta, Surabaya, Denpasar, Ujung Pandang, Jayapura, Honolulu dan Darwin menggunakan pesawat ke Biak, selanjutnya dari Biak menggunakan pesawat ke Manokwari atau Nabire. Dari Jakarta, Surabaya, Ujung Pandang dan Jayapura menggunakan kapal laut ke Manokwari atau Nabire. Dari Manokwari ke lokasi taman nasional (Pulau Rumberpon) menggunakan longboat dengan waktu 5,5 jam. Atau dari Manokwari ke kota kecamatan Ransiki dengan mobil sekitar tiga jam dan dilanjutkan dengan motorboat sekitar 2,5 jam.

2. TAMAN NASIONAL KELIMUTU

Taman Nasional Kelimutu memiliki topografi daerah yang bergelombang mulai ringan sampai berat dengan relief berbukit-bukit sampai bergunung-gunung.

 

 

 

 

 

Beberapa tumbuhan yang terdapat di Taman Nasional Kelimutu antara lain kayu mata (Albizia montana), kebu (Homalanthus giganteus), tokotaka (Putranjiva roxburghii), uwi rora (Ardisia humilis), longgo baja (Drypetes subcubica), toko keo (Cyrtandra sp.), kayu deo (Trema cannabina), dan kelo (Ficus villosa).

Taman Nasional Kelimutu merupakan habitat sekitar 19 jenis burung yang terancam punah diantaranya punai Flores (Treron floris), burung hantu wallacea (Otus silvicola), sikatan rimba-ayun (Rhinomyias oscillans), kancilan Flores (Pachycephala nudigula), sepah kerdil (Pericrocotus lansbergei), tesia Timor (Tesia everetti), opior jambul (Lophozosterops dohertyi), opior paruh tebal (Heleia crassirostris), cabai emas (Dicaeum annae), kehicap Flores (Monarcha sacerdotum), burung madu matari (Nectarinia solaris), dan elang Flores (Spizaetus floris).

Dari empat jenis mamalia endemik taman nasional ini, yang sering dijumpai adalah dua tikus gunung Bunomys naso dan Rattus hainaldi.Di taman nasional ini dapat dijumpai beberapa satwa seperti banteng (Bos javanicus javanicus), kijang (Muntiacus muntjak nainggolani), luwak (Pardofelis marmorata), trenggiling (Manis javanica), landak (Hystrix brachyura brachyura), dan kancil (Tragulus javanicus javanicus).

Sedangkan biota laut yang berada di sekitar Pulau Menjangan dan Tanjung Gelap terdiri dari 45 jenis karang diantaranya Halimeda macroloba, Chromis spp., Balistes spp., Zebrasoma spp., dan Ypsiscarus ovifrons; 32 jenis ikan diantaranya ikan bendera (Platax pinnatus), ikan sadar (Siganus lineatus), dan barakuda (Sphyraena jello); 9 jenis molusca laut diantaranya kima selatan (Tridacna derasa), triton terompet (Charonia tritonis), dan kima raksasa (Tridacna gigas).

Selain memiliki keanekaragaman hayati yang cukup bernilai tinggi, juga memiliki keunikan dan nilai astetika yang menarik yaitu dengan adanya tiga buah danau berwarna dan berada di puncak Gunung Kelimutu (1.690 meter dpl). Danau pertama bernama Tiwu Ata Mbupu (danau arwah para orang), danau kedua bernama Tiwu Nuwa Muri Koo Fai (danau arwah muda-mudi) dan danau ketiga bernama Tiwu Ata Polo (danau arwah para tukang tenung). Danau pertama dan kedua letaknya sangat berdekatan, sedangkan danau ketiga terletak menyendiri sekitar 1,5 km di bagian Barat. Warna air dari ketiga danau tersebut berbeda satu sama lain dan selalu berubah dari waktu ke waktu terutama warna air Tiwu Nuwa Muri (duabelas kali perubahan dalam jangka waktu duapuluh lima tahun). Selain disebabkan oleh aktivitas gunung berapi Kelimutu, perubahan warna ini diduga akibat adanya pembiasan cahaya matahari, adanya mikro biota air, terjadinya zat kimiawi terlarut, dan akibat pantulan warna dinding dan dasar dana.

Kekayaan alam yang dimiliki Taman Nasional Kelimutu ditunjang oleh seni budaya berupa rumah adat, tarian tradisional dan kerajinan tenun ikat yang merupakan ciri khas masyarakat setempat. Pembuatan tenun ikat sangat menarik perhatian pengunjung, karena didasari oleh seni dan imajinasi yang sangat tinggi dan berbeda dengan pembuatan tenun ikat lainnya di Indonesia.

3. TAMAN NASIONAL SEMBILANG (Oleh Nurfirsta)

Taman Nasional Sembilang merupakan perwakilan hutan rawa gambut, hutan rawa air tawar, dan hutan riparian (tepi sungai) di Propinsi Sumatera Selatan.

Tumbuhan yang ada di daratan dan perairan dicirikan dengan adanya paku gajah (Acrostichum aureum), nipah (Nypa fruticans), cemara laut (Casuarina equisetifolia), pandan (Pandanus tectorius), waru laut (Hibiscus tiliaceus), nibung (Oncosperma tigillaria), jelutung (Dyera costulata), menggeris (Koompassia excelsa), gelam tikus (Syzygium inophylla), Rhizophora sp., Sonneratia alba, dan Bruguiera gimnorrhiza.

Daerah-daerah pantai/hutan terutama di Sembilang dan Semenanjung Banyuasin merupakan habitat harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus), tapir (Tapirus indicus), siamang (Hylobates syndactylus syndactylus), kucing mas (Catopuma temminckii temminckii), rusa sambar (Cervus unicolor equinus), buaya (Crocodylus porosus), biawak (Varanus salvator), ikan sembilang (Plotusus canius), labi-labi besar (Chitra indica), lumba-lumba air tawar (Orcaella brevirostris), dan berbagai jenis burung.

Ribuan bahkan puluhan ribu burung migran asal Siberia dapat disaksikan di Sembilang yang mencapai puncaknya pada bulan Oktober. Hal ini merupakan atraksi burung migran yang menarik untuk diamati, karena dapat mendengar secara langsung suara gemuruh burung-burung tersebut terbang bersamaan dan menutupi suara debur ombak Selat Bangka.

Jenis burung lainnya yang ada seperti blekok asia (Limnodromus semipalmatus), trinil tutul (Pseudototanus guttifer), undan putih (Pelecanus onocrotalus), bluwok putih (Mycteria cinerea), bangau tongtong (Leptoptilos javanicus), dara laut sayap putih (Chlidonias leucoptera), dan lain-lain.

 

 

 

 

 

 

Sebelah Barat Laut Taman Nasional Sembilang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Berbak yang berada di Provinsi Jambi.

4. Taman Nasional Sagarmatha

 

Sagarmatha National Park merupakan obyek wisata berupa taman nasional tertinggi di dunia karena terletak di elevasi ketinggian 2.845-8.848 meter. Taman nasional seluas 1.148 kilometer persegi ini berada di Solu-Khumbu District di sebelah timur laut kota Kathmandu atau lebih tepatnya berada di puncak tertinggi dunia, Gunung Everest di kawasan pegunungan Himalaya. Gunung Everest disebut juga dengan nama Gunung Sagarmatha oleh penduduk Nepal. Obyek wisata ini resmi menjadi sebuah taman nasional pada tanggal 19 Juli 1976 dan pada tahun 1979 tercatat sebagai salah satu warisan dunia oleh UNESCO.

Ngarai, gletser dan berbagai area pegunungan yang luas merupakan pemandangan yang bisa Anda dapatkan saat berada di Sagarmatha National Park. Berbagai flora dan fauna pun juga mendiami taman nasional ini. Terdapat sekitar 118 spesies burung dan 26 spesies kupu-kupu di sini. Selain itu, terdapat juga beberapa hewan langka, seperti snow leopard, red panda dan Himalaya black bear. Berbagai jenis tumbuhan bisa Anda temukan di zona bawah dan tengah. Sedangkan di zona atas sudah tidak terdapat tumbuhan yang bisa hidup lagi.

Mendaki dan trekking merupakan kegiatan utama yang bisa Anda lakukan di wilayah obyek wisata ini. Terdapat banyak medan atau jalur trek dengan berbagai tingkat kesulitan yang berbeda. Trek Everest Base Camp merupakan jalur trek yang populer. Jalur trek ini memiliki tiga pos dan membutuhkan waktu sekitar 30 jam perjalanan untuk menaklukkannya. Jika ingin melakukan trekking di sini, tak usah khawatir karena terdapat pemandu trekking yang berasal dari Sherpa, yaitu nama salah satu suku bangsa Nepal dan Tibet yang bermukim di lereng pegunungan Himalaya yang terkenal akan keahliannya dalam mendaki dan menguasai medan pegunungan Himalaya. Waktu terbaik untuk trekking di sini adalah Maret hingga pertengahan Mei dan September hingga pertengahan November setiap tahunnya.

5. TAMAN NASIONAL BOGANI NANI WARTABONE

Taman Nasional Bogani Nani Wartabone; Sulawesi Utara, Gorontalo, (Bolaang Mangondow, Gorontalo), Taman Nasional Bogani Nani Wartabone adalah taman nasional yang terletak di Semenanjung Minahassa, Sulawesi. Taman nasional ini memiliki luas sebesar 2.871,15 km². Nama taman nasional ini berasal dari Nani Wartabone, Pahlawan Nasional Indonesia.

 

Sekitar 45 dari 80 jenis burung yang terdapat dalam kawasan TNBNW merupakan jenis endemik, di mana jenis endemik paling unik adalah burung Maleo(Macrocephalon maleo). Saat ini maleo hanya dapat di temukan di Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah.  Burung Rangkong (Aceros cassidix) atau dikenal dengan nama burung rangkong Sulawesi ekor putih.  Tarsius spectrum merupakan salah satu primate yang terkecil di dunia, mempunya berat tubuh hanya 100 gram tetapi memiliki mata besar, yaitu sekitar 80% dari besarnya kepala, dengan panjang tubuh 10 cm (80 – 160 mm), panjang ekor 25 cm. Tarsius adalah binatang malam, ia merupakan anggota kelas mamalia. Di Sulawesi Utara dinamakan tangkasi. Anoa besar(Bubalus depsessicornis) dan anoa kecil (bubalus quarlesi) sering juga disebut kerbau kerdil, jenis satwa ini berbulu lebat, warnanya coklat muda sampai coklat tua atau hitam. Babirusa(babyrouss babyrussa) bertubuh seperti babi, mempunyai dua pasang taring panjang melengkung kearah muka. Taring yang sepesang tumbuh menembus langit-langit rahang atas dan melengkung balik keatas mata. Hewan ini merupakan binatang malam, memburu buah-buahan yang jatuh, dan membuka kayu yang lapuk untuk mencari larva.

 

6. TAMAN NASIONAL MANUSELA (Oleh Siti Nadia)

 

Taman Nasional Manusela merupakan perwakilan tipe ekosistem pantai, hutan rawa, hutan hujan dataran rendah dan hutan hujan pegunungan di Maluku. Tipe vegetasi yang terdapat di taman nasional ini yaitu mangrove, pantai, hutan rawa, tebing sungai, hutan hujan tropika pamah, hutan pegunungan, dan hutan sub-alpin.

Beberapa jenis tumbuhan di taman nasional ini antara lain tancang (Bruguiera sexangula), bakau (Rhizophora acuminata), api-api (Avicennia sp.), kapur (Dryobalanops sp.), pulai (Alstonia scholaris), ketapang (Terminalia catappa), pandan (Pandanus sp.), meranti (Shorea selanica), benuang (Octomeles sumatrana), matoa/kasai (Pometia pinnata), kayu putih (Melaleuca leucadendron), berbagai jenis anggrek, dan pakis endemik (Chintea binaya).

Sekitar 117 jenis burung terdapat di Taman Nasional Manusela, dimana 14 jenis diantaranya endemik seperti kesturi ternate (Lorius garrulus), nuri tengkuk ungu/nuri kepala hitam (L. domicella), kakatua Seram (Cacatua moluccensis), raja udang (Halcyon lazuli dan H. sancta), burung madu Seram besar (Philemon subcorniculatus), dan nuri raja/nuri ambon (Alisterus amboinensis).

Burung kakatua seram merupakan salah satu satwa endemik Pulau Maluku, keberadaannya terancam punah di alam akibat perburuan liar, perusakan dan penyusutan habitatnya. Satwa lainnya di taman nasional ini adalah rusa (Cervus timorensis moluccensis), kuskus (Phalanger orientalis orientalis), soa-soa (Hydrosaurus amboinensis), babi hutan (Sus celebensis), luwak (Pardofelis marmorata), kadal panama (Tiliqua gigas gigas), duyung (Dugong dugon), penyu hijau (Chelonia mydas), dan berbagai jenis kupu-kupu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Terdapat sungai-sungai yang mengalir deras, dengan konfigurasi topografi terjal, enam buah gunung/bukit dengan Gunung Binaya yang tertinggi (± 3.027 meter dpl).

Masyarakat desa Manusela, Ilena Maraina, Selumena, dan Kanike, merupakan enclave di dalam kawasan Taman Nasional Manusela. Masyarakat tersebut telah lama berada di desa-desa tersebut, dan percaya bahwa gunung-gunung yang berada di taman nasional dapat memberikan semangat dan perlindungan dalam kehidupan mereka. Kepercayaan mereka secara tidak langsung akan membantu menjaga dan melestarikan taman nasional.

 

7. TAMAN NASIONAL WAKATOBI

Taman Nasional Wakatobi yang terletak di Kabupaten Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara, Indonesia. Ibu kota Wakatobi adalah Wangi-Wangi. Kabupaten Wakatobi terdiri dari empat pulau utama, yaitu Wangiwangi, Kalidupa, Tomia, dan Binongko. Jadi, Wakatobi adalah singkatan nama dari keempat pulau utama tersebut. Sebelum 18 Desember 2003, kepulauan ini disebut Kepulauan Tukang Besi dan masih merupakan bagian dari Kabupaten Buton. Secara astronomis, Kabupaten Wakatobi berada di selatan garis khatulistiwa dan seperti daerah lain di Indonesia, Wakatobi memiliki dua musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Taman Nasional Wakatobi yang ditetapkan pada tahun 1996, dengan total area 1,39 juta hektar, menyangkut keanekaragaman hayati laut dan karang yang menempati salah satu posisi prioritas tertinggi dari konservasi laut di Indonesia.

Keindahan dan kekayaan kawasan Taman Nasional Wakatobi sebenarnya sudah terkenal di mancanegara, terutama setelah Ekspedisi Wallacea dari Inggris pada tahun 1995 yang menyebutkan bahwa kawasan di Sulawesi Tenggara ini sangat kaya akan spesies koral. Di sana, terdapat 750 dari total 850 spesies koral yang ada di dunia. Konfigurasi kedalamannya bervariasi mulai dari datar sampai melandai ke laut dan di beberapa daerah perairan terdapat yang bertubir curam. Bagian terdalam perairannya mencapai 1.044 meter.

Pariwisata bahari adalah aktivitas wisata yang sudah lama dikenal dan merupakan pariwisata andalan di Taman Nasional Kepulauan Wakatobi. Kekayaan biota laut ini tidak lain karena hamparan terumbu karang yang sangat luas di sepanjang perairan dengan topografi bawah laut yang berwarna-warni seperti bentuk slopflatdrop-offatoll dan underwater cave.

Lebih dari 112 jenis karang dari 13 famili diantaranya Acropora formosa, A. Hyacinthus, Psammocora profundasaflaPavona cactusLeptoseris yabei, Fungia molucensisLobophyllia robustaMerulina ampliataPlatygyra versiforaEuphyllia glabrescensTubastraea frondesStylophora pistillata, Sarcophyton throchelliophorum, dan Sinularia spp yang tinggal harmonis bersama penghuni bawah laut lainnya.

Kekayaan jenis ikan yang dimiliki taman nasional ini sebanyak 93 jenis ikan diantaranya (Cephalopholus argus), takhasang (Naso unicornis), pogo-pogo (Balistoides viridescens), napoleon (Cheilinus undulatus), ikan merah (Lutjanus biguttatus), baronang (Siganus guttatus), Amphiprion melanopus, Chaetodon specullum, Chelmon rostratus, Heniochus acuminatus, Lutjanus monostigma, Caesio caerularea, dan lain-lain.

Taman Nasional Wakatobi juga menjadi tempat beberapa jenis burung laut seperti Angsa-Batu Coklat (Sula leucogaster plotus), Cerek Melayu (Charadrius peronii) dan Raja Udang Erasia (Alcedo atthis) bersarang. Beberapa jenis penyu juga menjadikan taman ini sebagai rumah mereka seperti penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu tempayan (Caretta caretta), dan penyu lekang (Lepidochelys olivacea).

Perairan Wakatobi memiliki tamu setia yang menjadikan perairan Wakatobi sebagai taman bermainnya, tamu itu tidak lain dan tidak bukan adalah ikan paus sperma (Physeter macrocephalus). Biasanya, kawanan paus sperma berada di Wakatobi pada bulan November, saat belahan bumi lain membeku. Pada bulan tersebut perairan Wakatobi relatif lebih hangat dan berlimpah pakan yang bisa mengenyangkan perut kawanan paus. Tidak hanya itu Wakatobi juga menjadi tempat bermain ikan pari Manta (Manta ray) yang ukuran tubuhnya tergolong raksasa. Pari Manta merupakan salah satu jenis ikan yang khas dan unik, yang hanya terdapat di perairan tropis.

 

Keberadaan 25 buah gugusan terumbu karang dan kedalaman yang ideal menjadikan perairan di Taman Nasional Kepulauan Wakatobi tempat yang ideal bagi berbagai jenis biota laut untuk tinggal, menjadikan penghuni laut di sini memiliki nilai estetika dan konservasi yang tinggi.

Secara spesifik Taman Nasional Kepulauan Wakatobi dikeliling pantai dari pulau-pulau karang sepanjang 600 km serta obyek wisata pantai yang sangat potensial untuk dikelola, tersebar di seluruh wilayah Wakatobi. Jadi bukan tanpa alasan jika kawasan pantai di Wakatobi sangat cocok untuk wisata seperti diving, snorkeling, berenang dan memancing.

 

9. TAMAN NASIONAL BANFF

Didirikan pada tahun 1885, Taman Banff adalah taman nasional tertua di Kanada. Banff terletak di tengah Pegunungan Rocky Kanada, di Provinsi Alberta, ke Barat dari Calgary. Meliputi lebih dari 2.500 mil persegi, Taman ini merupakan kombinasi dari daerah pegunungan, hutan pinus, gletser dan bidang es. Ini menjadi daya tarik utama bagi penggemar alam luar, menawarkan hiking, menunggang kuda, mendaki gunung, menyelam es dan sejumlah kegiatan lainnya. Di antara berbagai atraksi Banff adalah keragaman yang besar satwa liar, termasuk karnivora besar seperti grizzly dan beruang hitam serta singa gunung dan serigala abu-abu.

 

10. TAMAN NASIONAL Yellowstone

 

 

 

 

Diakui sebagai taman nasional pertama di Amerika, Yellowstone didirikan pada tahun 1872. Tersebar antara tiga negara bagian Montana, Wyoming dan Idaho, luas Yellowstone National Park adalah 3.472 mil persegi, yang didalamnya terdapat berbagai habitat. Hutan, gunung, sungai dan setengah fitur geothermic dunia ditemukan di taman ini, termasuk yang terkenal Old Faithful Geyser. Ekosistem yang beragam mendukung array yang luas dari kedua hewan dan tumbuhan dengan sebagian besar predator puncak AS ditemukan hidup di taman nasional ini. Herbivora besar seperti Moose dan Bison juga adalah asli dari Yellowstone.

 

11. TAMAN NASIONAL Plitvice Lakes

 

Taman Nasional Danau Plitvice terletak di dataran tinggi Plitvice yang dikelilingi oleh tiga bagian pegunungan di Alpen, Pljesevica, Mala Kapela dan Medvedak. Kondisi geologi Taman nasional ini terdiri dari Air Terjun dan sungai – sungai kecil dengan air yang sangat jernih. Gangang dan lumut yang hidup disana memberikan warna biru hijau yang khas.

12. TAMAN NASIONAL LORENTZ

Taman Nasional Lorentz merupakan perwakilan dari ekosistem terlengkap untuk keanekaragaman hayati di Asia Tenggara dan Pasifik. Kawasan ini juga merupakan salah satu diantara tiga kawasan di dunia yang mempunyai gletser di daerah tropis. Membentang dari puncak gunung yang diselimuti salju (5.030 meter dpl), hingga membujur ke perairan pesisir pantai dengan hutan bakau dan batas tepi perairan Laut Arafura. Dalam bentangan ini, terdapat spektrum ekologis menakjubkan dari kawasan vegetasi alpin, sub-alpin, montana, sub-montana, dataran rendah, dan lahan basah.

Selain memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, terdapat pula beberapa kekhasan dan keunikan adanya gletser di Puncak Jaya dan sungai yang menghilang beberapa kilometer ke dalam tanah di Lembah Balliem.

Sebanyak 34 tipe vegetasi diantaranya hutan rawa, hutan tepi sungai, hutan sagu, hutan gambut, pantai pasir karang, hutan hujan lahan datar/lereng, hutan hujan pada bukit, hutan kerangas, hutan pegunungan, padang rumput, dan lumut kerak.

Jenis-jenis tumbuhan di taman nasional ini antara lain nipah (Nypa fruticans), bakau (Rhizophora apiculata), Pandanus julianettii, Colocasia esculenta, Avicennia marina, Podocarpus pilgeri, dan Nauclea coadunata.

Jenis-jenis satwa yang sudah diidentifikasi di Taman Nasional Lorentz sebanyak 630 jenis burung (± 70 % dari burung yang ada di Papua) dan 123 jenis mamalia. Jenis burung yang menjadi ciri khas taman nasional ini ada dua jenis kasuari, empat megapoda, 31 jenis dara/merpati, 30 jenis kakatua, 13 jenis burung udang, 29 jenis burung madu, dan 20 jenis endemik diantaranya cendrawasih ekor panjang (Paradigalla caruneulata) dan puyuh salju (Anurophasis monorthonyx).

Satwa mamalia tercatat antara lain babi duri moncong panjang (Zaglossus bruijnii), babi duri moncong pendek (Tachyglossus aculeatus), 4 jenis kuskus, walabi, kucing hutan, dan kanguru pohon.

Taman Nasional Lorentz ditetapkan sebagai Situs Warisan Alam Dunia oleh UNESCO dan Warisan Alam ASEAN oleh negara-negara ASEAN.

Taman nasional ini memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dan ditunjang keanekaragaman budaya yang mengagumkan. Diperkirakan kebudayaan tersebut berumur 30.000 tahun dan merupakan tempat kediaman suku Nduga, Dani Barat, Amungme, Sempan dan Asmat. Kemungkinan masih ada lagi masyarakat yang hidup terpencil di hutan belantara ini yang belum mengadakan hubungan dengan manusia modern.

Suku Asmat terkenal dengan keterampilan pahatan patungnya. Menurut kepercayaannya, suku tersebut identik dengan hutan atau pohon. Batang pohon dilambangkan sebagai tubuh manusia, dahan-dahannya sebagai lengan, dan buahnya sebagai kepala manusia. Pohon dianggap sebagai tempat hidup para arwah nenek moyang mereka. Sistem masyarakat Asmat yang menghormati pohon, ternyata berlaku juga untuk sungai, gunung dan lain-lain.

Lorentz ditunjuk sebagai taman nasional pada tahun 1997, sehingga fasilitas/sarana untuk kemudahan pengunjung masih sangat terbatas, dan belum semua obyek dan daya tarik wisata alam di taman nasional ini telah diidentifikasi dan dikembangkan.

13. TAMAN NASIONAL BUNAKEN

Taman Nasional Bunaken merupakan perwakilan ekosistem perairan tropis Indonesia yang terdiri dari ekosistem hutan bakau, padang lamun, terumbu karang, dan ekosistem daratan/pesisir.

Pada bagian Utara terdiri dari pulau Bunaken, pulau Manado Tua, pulau Montehage, pulau Siladen, pulau Nain, pulau Nain Kecil, dan sebagian wilayah pesisir Tanjung Pisok. Sedangkan pada bagian Selatan meliputi sebagian pesisir Tanjung Kelapa.

Potensi daratan pulau-pulau taman nasional ini kaya dengan jenis palem, sagu, woka, silar dan kelapa. Jenis satwa yang ada di daratan dan pesisir antara lain kera hitam Sulawesi (Macaca nigra nigra), rusa (Cervus timorensis russa), dan kuskus (Ailurops ursinus ursinus).

Jenis tumbuhan di hutan bakau Taman Nasional Bunaken yaitu Rhizophora sp., Sonneratia sp., Lumnitzera sp., dan Bruguiera sp. Hutan ini kaya dengan berbagai jenis kepiting, udang, moluska dan berbagai jenis burung laut seperti camar, bangau, dara laut, dan cangak laut.

Jenis ganggang yang terdapat di taman nasional ini meliputi jenis Caulerpa sp., Halimeda sp., dan Padina sp. Padang lamun yang mendominasi terutama di pulau Montehage, dan pulau Nain yaitu Thalassia hemprichii, Enhallus acoroides, dan Thalassodendron ciliatum.

Tercatat 13 genera karang hidup di perairan Taman Nasional Bunaken, didominasi oleh jenis terumbu karang tepi dan terumbu karang penghalang. Yang paling menarik adalah tebing karang vertikal sampai sejauh 25-50 meter.

Sekitar 91 jenis ikan terdapat di perairan Taman Nasional Bunaken, diantaranya ikan kuda gusumi (Hippocampus kuda), oci putih (Seriola rivoliana), lolosi ekor kuning (Lutjanus kasmira), goropa (Ephinephelus spilotoceps dan Pseudanthias hypselosoma), ila gasi (Scolopsis bilineatus), dan lain-lain.

Jenis moluska seperti kima raksasa (Tridacna gigas), kepala kambing (Cassis cornuta), nautilus berongga (Nautilus pompillius), dan tunikates/ascidian.

14. TAMAN NASIONAL UJUNG KULON

Taman Nasional Ujung Kulon merupakan perwakilan ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah yang tersisa dan terluas di Jawa Barat, serta merupakan habitat yang ideal bagi kelangsungan hidup satwa langka badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) dan satwa langka lainnya. Terdapat tiga tipe ekosistem di taman nasional ini yaitu ekosistem perairan laut, ekosistem rawa, dan ekosistem daratan.

Keanekaragaman tumbuhan dan satwa di Taman Nasional Ujung Kulon mulai dikenal oleh para peneliti, pakar botani Belanda dan Inggris sejak tahun 1820.

Kurang lebih 700 jenis tumbuhan terlindungi dengan baik dan 57 jenis diantaranya langka seperti; merbau (Intsia bijuga), palahlar (Dipterocarpus haseltii), bungur (Lagerstroemia speciosa), cerlang (Pterospermum diversifolium), ki hujan (Engelhardia serrata)dan berbagai macam jenis anggrek

Satwa di Taman Nasional Ujung Kulon terdiri dari 35 jenis mamalia, 5 jenis primata, 59 jenis reptilia, 22 jenis amfibia, 240 jenis burung, 72 jenis insekta, 142 jenis ikan dan 33 jenis terumbu karang. Satwa langka dan dilindungi selain badak Jawa adalah banteng (Bos javanicus javanicus), ajag (Cuon alpinus javanicus), surili (Presbytis comata comata), lutung (Trachypithecus auratus auratus), rusa (Cervus timorensis russa), macan tutul (Panthera pardus), kucing batu (Prionailurus bengalensis javanensis), owa (Hylobates moloch), dan kima raksasa (Tridacna gigas).

Taman Nasional Ujung Kulon merupakan obyek wisata alam yang menarik, dengan keindahan berbagai bentuk gejala dan keunikan alam berupa sungai-sungai dengan jeramnya, air terjun, pantai pasir putih, sumber air panas, taman laut dan peninggalan budaya/sejarah (Arca Ganesha, di Gunung Raksa Pulau Panaitan). Kesemuanya merupakan pesona alam yang sangat menarik untuk dikunjungi dan sulit ditemukan di tempat lain

Jenis-jenis ikan yang menarik di Taman Nasional Ujung Kulon baik yang hidup di perairan laut maupun sungai antara lain ikan kupu-kupu, badut, bidadari, singa, kakatua, glodok dan sumpit. Ikan glodok dan ikan sumpit adalah dua jenis ikan yang sangat aneh dan unik yaitu ikan glodok memiliki kemampuan memanjat akar pohon bakau, sedangkan ikan sumpit memiliki kemampuan menyemprot air ke atas permukaan setinggi lebih dari satu meter untuk menembak memangsanya (serangga kecil) yang berada di i daun-daun yang rantingnya menjulur di atas permukaan air.

 

Taman Nasional Ujung Kulon bersama Cagar Alam Krakatau merupakan asset nasional, dan telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Alam Dunia oleh UNESCO pada tahun 1991.

Untuk meningkatkan kemampuan pengelolaan Taman Nasional Ujung Kulon sebagai Situs Warisan Alam Dunia, UNESCO telah memberikan dukungan pendanaan dan bantuan teknis.

Masyarakat yang bermukim di sekitar taman nasional yaitu suku Banten yang terkenal dengan kesenian debusnya. Masyarakat tersebut pengikut agama Islam, namun mereka masih mempertahankan kebiasaan-kebiasaan, tradisi, dan kebudayaan nenek moyang mereka.

Di dalam taman nasional, ada tempat-tempat yang dikeramatkan bagi kepentingan kepercayaan spiritual. Tempat yang paling terkenal sebagai tujuan ziarah adalah gua Sanghiang Sirah, yang terletak di ujung Barat semenanjung Ujung Kulon.

15. TAMAN NASIONAL KOMODO (Oleh Taslim Abd. Rahman)

 

Taman Nasional Komodo berada di antara Pulau Sumbawa dan Pulau Flores di kepulauan Indonesia Timur. Secara administrativ termasuk dalam Wilayah Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kawasan ini ditetapkan sebagai Taman Nasional Komodo pada tanggal 6 Maret 1980 dan dinyatakan sebagai Cagar Manusia dan Biosfer pada tahun 1977 dan juga sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO pada tahun 1991, sebagai Simbol Nasional oleh Presiden RI pada tahun 1992, sebagai Kawasan Perlindungan Laut pada tahun 2000 dan juga sebagai salah satu Taman Nasional Model di Indonesia pada tahun 2006.

Taman Nasional Komodo memiliki luas 173.300 ha meliputi wilayah daratan dan lautan dengan lima pulau utama yakni Pulau Komodo, Pulau Padar, Pulau Rinca, Gili Motang, Nusa Kode dan juga pulau-pulau kecil lainnya. Kepulauan tersebut dinyatakan sebagai Taman nasional untuk melindungi Komodo yang terancam punah dan habitatnya serta keanekaragaman hayati didalam wilayah tersebut. Taman lautnya dibentuk untuk melindungi biota laut yang sangat beragam yang terdapat disekitar kepulauan tersebut, termasuk yang terkaya di bumi.

Taman Nasional komodo terletak di kawasan Wallacea Indonesia. Kawasan Wallacea terbentuk dari pertemuan dua benua yang membentuk deretan unik kepulauan bergunung api, dan terdiri atas campuran burung serta hewan dari kedua benua Autralia dan Asia. Terdapat 254 spesies tumbuhan yang berasal dari Asia dan Australia di Taman Nasional Komodo. Selain itu, juga terdapat 58 jenis binatang dan 128 jenis burung. Perpaduan berbagai vegetasi di Taman Nasional Komodo memberikan lingkungan yang baik bagi berbagai jenis binatang dalam kawasan ini.

Ekosistem Taman Nasional Komodo dipengaruhi oleh iklim yang dihasilkan dari musim kemarau panjang, suhu udara tinggi dan curah hujan rendah. Disamping itu Taman Nasional Komodo terletak dalam zonasi transisi antara flora dan fauna Asia dan Australia. Ekosistem perairannya dipengaruhi oleh dampak El-Nino/La Nina, yang berakibat memanasnya lapisan air laut di sekitarnya dan sering terjadi arus laut yang kuat. Berikut adalah tipe-tipe vegetasi yang terdapat di Taman Nasional Komodo ;

Padang Rumput dan Hutan Savana Terdapat Padang Rumput dan Hutan Savana yang luasnya mencapai kurang lebih 70% dari luas Taman Nasional Komodo. Tumbuh berbagai jenis rumput di antaranya; Setaria adhaerens, Chloris barbata, Heteropogon contortus, Themeda gigantea dan Themeda gradiosa yang diselingi oleh pohon lontar (Borassus flobellifer) yang merupakan tumbuhan khas dari Tempat ini.

Hutan Tropis Musim (dibawah 500 m dpl) Sekitar 25% dari luas kawasan Komodo meruapakan vegetasi hutan tropis musim dengan jenis tumbuhan, antara lain : kesambi (Schleichera oleosa), asem (Tamarindus indica), kepuh (Sterculia foetida), dan beberapa jenis tumbuhan lainnya.

Hutan di atas 500 m dpl pada ketinggian di atas 500 m dpl. Di puncak-puncak bukit, vegetasinya antara lain; Collophyllum spectobile, Colona kostermansiana, Glycosmis pentaphylla, Ficus urupaceae, Mischarpus sundaicus, Podocarpus netrifolia, Teminalia zollingeri, Uvaria ruva, rotan (Callamus sp.), bambu (Bambusa sp.), dan pada tempat yang cukup teduh biasanya ditemukan lumut yang hidup menempel di bebatuan.

Potensi Fauna

Jenis-jenis Fauna yang terdapat di Taman Nasional Komodo antara lain;

Komodo (Varanus komodoensis) Komodo hidup di beberapa pulau kecil di bagian tenggara Indonesia. Di dalam kawasan Taman Nasional Komodo, komodo hanya ditemukan di Pulau Komodo, Pulau Rinca, Gili Motang dan Nusa Kode. Komodo tidak ditemukan di tempat lain lagi di atas bumi ini, selain di tempat tadi.

Saat ini, terdapat 2,793 ekor komodo di dalam kawasan Taman Nasional Komodo. 1,288 ekor terdapat di Pulau Komodo, 1,336 ekor di Pulau Rinca, 83 ekor di Gili Motang dan 86 ekor di Nusa Kode. Sedangkan di Pulau Padar komodo tidak ditemukan lagi. Komodo dapat ditemukan hampir di semua tempat di Komodo, Rinca, Gili Motang dan Nusa Kode. Mereka dapat ditemukan di hutan hujan, dalam Savanna dan di Pantai.

Mamalia Antara lain, rusa (Cervus timorensis), anjing hutan (Cuon alpinus), babi hutan (Sus scrofa), Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), kuda liar (Equus caballus) dan kerbau liar (Bubalus bubalis), musang (Paradoxurus hermaphroditus), tikus besar Rinca (Ratus ritjanus), dan kalong buah (Cynopterus brachyotis dan Pteropsis sp.)

Burung Tercatat terdapat 111 jenis burung, antara lain ; burung gosong (Megapodius reinwardt), kakatua jambul kuning (Cacatua sulphurea), perkutut (Geopelia streptriata), tekukur (Streptopelia chinensis), pergam hijau (Ducula aenea), Philemon buceroides, burung raja udang (Halcyon chloris), dan burung kacamata laut (Zosterops chloris).

Reptil

Terdapat 34 jenis Reptil. Disamping reptil Komodo, jenis reptil lainnya, antara lain; ular kobra (Naja naja), ular russel (Viperia russeli), ular pohon hijau (Trimeresurus albolabris), ular sanca (Python sp.), ular laut (Laticauda colubrina), kadal (Scinidae, Dibamidae, dan Varanidae), tokek (Gekko sp.), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), dan penyu hijau (Chelonia mydas).

Keanekaragaman Hayati Perairan dan Lahan Basah

Potensi Flora

Terdapat di teluk yang terlindungi dari hempasan gelombang. Jenis vegetasinya, antara lain; Rhizophora sp., Rhizophora mucronata, dan Lumnitzera racemosa merupakan jenis vegetasi yang dominan. Namun secara umum terdapat pula api-api (Avicennia marina), Bruguiera sp., Capparis seplaria, Ceriops tagal, dan Sonneratia alba. Komunitas Mangrove di Taman Nasional Komodo merupakan penghalang/benteng fisik alami terhadap Erosi Tanah dan akarnya menjadi tempat pembiakan, berpijah, dan daerah perlindungan bagi ikan, kepiting, udang, dan moluska.

Potensi Sumberdaya Perikanan

Terumbu karang di perairan Taman Nasional Komodo termasuk yang terindah di dunia. Berbagai bentuk dan warna karang keras dan karang lunak sangat menarik untuk dilihat. Terdapat lebih dari 1000 jenis ikan, 260 jenis karang dan 70 jenis bunga karang (sponge) dan banyak Invertebrata lain yang dapat dijumpai di banyak tecorampat di Taman Nasional Komodo. Acropora spp, Favites sp, Leptoria sp, Fungia sp, Sarcophyton sp dan Xenia sp adalah jenis karang yang umum dijumpai.

Selain itu dapat dijumpai juga berbagai jenis spesies gorgonians, sea fan, sea pens, anemon dengan clown fish, Bintang Laut, christmas tree worms, kima (Tridacna sp), lobster, nudibranchs, dll. Berbagai ikan karang hidup di sini, di antaranya Chaetodon spp, Amychiprion spp, 8 jenis kereapu dan Napoleon (Chelinus undulatus). Selain itu perairan Taman Nasional Komodo merupakan jalur Migrasi 5 jenis Paus, 10 jenis Lumba-lumba dan Duyung (Dugong Dugon).

16. TAMAN NASIONAL  Litchfield, Teritorial Utara

 

                                

 

 

 

 

 

Taman Nasional Litchfield, dengan hutan yang rindang, air terjun yang spektakuler, kolam rendam yang berkilau dan busut anai-anai yang menjulang tinggi merupakan tujuan wisata yang semakin populer dari Darwin.  Dari Teritorial Utara, taman nasional ini dapat ditempuh cukup dengan berkendara selama dua jam.  Terlebih lagi, semua objek wisata alam yang utama – di antaranya Buley Rockhole dan Air Terjun Florence, Tolmer dan Wangi yang fantastis – dapat diakses dengan mudah dari jalan utama Litchfield. Tengok langsung busut anai-anai yang dibangun dengan cermat, nikmati berenang di kolam-kolam yang dikitari tumbuhan pandan dan ikuti wisata jalan kaki yang permai dalam sebuah tamasya sehari.  Atau Anda dapat menginap, berkemah dan menjelajah atau berkendara mobil 4WD menuju daerah-daerah yang lebih terpencil dalam taman nasional ini. 

Dari sini, berbagai air terjun akan memikat Anda dengan interval yang teratur selama melintasi jalan beraspal.  Anda bisa berenang di bawah dua arus pancuran Air Terjun Florence atau mengapung dan memandang parit hutan tanaman sulur.  Anda juga bisa berpiknik di dekat wallaroo dan walabi batu telinga pendek, lalu mendaki untuk melihat bentang alam yang spektakuler.  Dari sini, jalur jalan kaki Florence Creek Walk sejauh 1,5 km akan membawa Anda menuju Buley Rockhole yang ternama, serangkaian spa alam dan whirlpool yang dikitari oleh padang semak yang sunyi.  Lebih lanjut, Anda bisa mampir untuk melihat Air Terjun Tolmer yang bergemuruh melewati dua tebing yang terjal, dan mengikuti jalur jalan kaki Tolmer Falls Walk yang mudah melintasi negeri batu pasir berwarna kemerahan. 

Dari Greenant Creek yang terletak tak jauh, sebuah penjelajahan pulang pergi selama 90 menit akan membawa Anda ke puncak Air Terjun Tjaetaba, sebuah situs keramat suku Aborigin.  Selanjutnya yang wajib dikunjungi adalah Air Terjun Wangi, air terjun paling besar dan paling mudah diakses di Litchfield.  Berenanglah di kolam rendam, berpiknik dengan kawanan kelelawar buah yang sedang lelap dan berjalan kaki menuju anjungan tinjau di kaki air terjun.  Dari sini, penjelajahan Wangi Falls Walk berlanjut menembus hutan monsun dan menaiki tebing batu yang curam.  Lebih lanjut, di lintasan menuju Walker Creek terdapat delapan bumi perkemahan rockhole, sebuah area piknik dan banyak tempat berenang yang sunyi.  Objek wisata terakhir yang dilewati jalan beraspal adalah Bamboo Creek, lokasi sebuah bekas tambang timah. 

Keluar dari jalur, Anda bisa berkendara 4WD menuju kubah-kubah batu pasir yang termakan cuaca di The Lost City atau menuju puing-puing bersejarah Blythe Homestead Ruins, juga lokasi sebuah tambang timah dan tembaga kuno.  Kunjungi air terjun Surprise Creek Falls atau Tjaynera (Sandy Creek), di mana terdapat jalan setapak yang diapit tumbuhan sikas menembus lembah menuju kolam berendam.  Untuk sebuah sudut pandang yang berbeda, Anda bisa ikut serta dalam penerbangan permai dengan menumpang helikopter atau bergabung dalam sebuah pesiar satwa liar menyusuri Sungai Reynolds.  Luangkan waktu selama dua atau tiga hari untuk menjelajahi dataran tinggi batu pasir yang berbukit melalui jalur penjelajahan Tabletop Track sejauh 39 km, menginap semalam di Air Terjun Florence, Tabletop Swamp atau Greenant Creek.

Untuk sebuah petualangan beberapa hari yang lebih dekat dengan objek wisata utama, Anda bisa mendirikan sebuah tenda di lokasi-lokasi berkemah yang permai di dekat Air Terjun Wangi dan Florence, Buley Rockhole dan Walker Creek.  Sebagai alternatif, Anda bisa menginap pada malam harinya di Batchelor atau kembali ke Darwin, di mana Anda bisa membahas petualangan Litchfield Anda dengan warga setempat yang sama-sama antusias.

 

CAGAR ALAM

Oleh Nurfirsta

1. CAGAR ALAM  TELAGA WARNA

KEADAAN FISIK KAWASAN

Luas dan letak
Kawasan hutan Telaga Warna ditetapkan sebagai Cagar Alam (CA) berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 481/Kpts/Um/6/1981 tanggal 9-6-1956, seluas 268,25 Ha. Kemudian sebagian areal yang meliputi sebuah telaga, berubah fungsinya menjadi Taman Wisata Alam (TWA) seluas 5 Ha. Telaga warna terletak di sekitar Puncak Pass dan tidak jauh dari halan raya Bogor Cianjur, yang secara administrasi pemerintahan termasuk dalam Desa Tugu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor.

Topografi
Keadaan topografi kawasan CA/TWA Telaga warna bergelombang dengan ketinggian �  1.400 meter di atas permukaan laut.

Iklim
Menurut klasifikasi  iklim Schmidt dan Ferguson kawasan ini termasuk tipe iklim A dengan curah hujan rata-rata 3.380 mm per tahun.

POTENSI BIOTIK KAWASAN

Flora
Vegetasi ini termasuk tipe hutan hujan pegunungan, floranya terdiri dari beraneka ragam jenis pohon-pohonan, Liana dan epiphyt. Flora yang terdapat adalah merupakan vegetasi hutan pegunungan dengan jenis-jenis pohonnya adalah Puspa (Schima walichii), Saninten (Castanopsis argentea) dan lain-lain.
Fauna
Jenis satwa liar yang terdapat di kawasan ini adalah beberapa jenis burung (aves) seperti Tekukur (Streptopelia chinensis), Puyuh (Turnix suscitator), Kadanca (Ducula sp), walet (Collocalia vulvanorum) dan lain-lain.

POTENSI WISATA ALAM

Daya tarik obyek

TWA Telaga Warna memiliki pemandangan alam yang indah dengan udara sejuk, di samping itu juga terdapat danau alam di mana permukaan airnya tampak berwarna, hal ini disebabkan oleh pantulan sinar matahari yang datang dari celah-celah dedaunan dan jatuh di permukaan danau yang berfungsi sebagai cemrin. Keadaan alam yang relatif masih utuh merupakan daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Di TWA Telaga Warna juga terdapat obyek wisata budaya berupa makam keramat yang sering dikunjungi para pejiarah.

2. CAGAR ALAM SUKAYAWANA

KEADAAN FISIK KAWASAN

Luas dan letak
Kawasan Hutan Sukawayana ditetapkan sebagai Cagar Alam (CA) berdasarkan GB. Tangal 11-7-1919 Nomor : 83 Stbl. 392, seluas 33 Ha. Sebagian kawasan cagar alam yang terletak di tepi pantai dan mempunyai potensi obyek wisata alam seluas 16 Ha. Statusnya di ubah menjadi Taman Wisata Alam (TWA) berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 570/Kpts-II/91, tanggal 24 Agustus 1991.

Cagar Alam dan Taman Wisata Alam ini terletak di pantai Teluk Pelabuhan Ratu Samudera Hindia/Samudera Indonesia. Menurut administrasi pemerintahan termasuk Desa Cikohok, Kecamatan Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi.

Topografi
Keadaan topografi secara umum realatif datar dengan ketinggian mulai dari 0-18 meter di atas permukaan laut.

Iklim
Menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson kawasan ini termasuk tipe iklim B dengan curah hujan rata-rata per tahun 2.426 mm.

POTENSI BIOTIK KAWASAN

Flora
Cagar alam ini berfungsi sebagai peyangga akibat adanya pengikisan pantai oleh angin dan air. Dakam cagar alam ini terdapat jenis pohon-pohonan dataran rendah diantaranya : Merbau (Instsia bijuga), Kihiang (Albizia procera), Puspa (Schima walichii). Kiara (Ficus sp.), Laban (Vitex pubescens), dan Degel (Crudia batamensis), Katapang (Terminalia catappa), Pandan (Pandanus sp) dan Bayur (Pterospermum javanicum).

Fauna
Fauna yang terdapat adalah Kera (Macaca fascicularis), Lutung (Tracypithecus auratus) adari golongan Primata, beberapa jenis burung (Aves) serta Biawak (Varanus salvator) dari golongan Reptilia.

POTENSI WISATA ALAM

Daya tarik Obyek
Obyek wisata unggulan di TWA Sukawayana adalah terdapatnya keindahan pantai Samudera Indonesia yang berpasir dan landai dengan latara belakang hutan pantai yang masih rimbun. Disamping itu di sekitar kawasan ini juga terdapat beberapa obyek wisata yang merupakan daerah tujuan wisata, diantaranya yaitu :

  1. Pelabuhan nelayan dan tempat pelelangan ikan.
  2. Pemandangan pantai Karang Hawu.
  3. Air panas di Cisolok

3. CAGAR ALAM DUNGUS IWUL

KEADAAN FISIK KAWASAN

Luas dan letak
Kawasan hutan Dungul Iwul ditetapkan sebagai Cagar Alam berdasarkan GB tanggal 21-3-1931 No. 23 srbl 99, seluas 9 Ha. Nama Dungus Iwul berasal dari : Dunggus yaitu sebidang hutan kecil  yang di sisakan tidak untuk pertanian, sedang Iwul adalah nama suatu tanaman sejenis palma yang banyak tumbuh di cagar Alam ini.

Menurut administrasi pemerintahan Cagar Alam Dungus Iwul terletak di Desa Cigeulung Kecamatan Jasinga Kabupaten Bogor.

Topografi
Keadaan Topografi kawasan ini relatif datar dengan ketinggian 175 m di atas permukaan laut.

Iklim
Menurut klasifikasi iklim Schmidt dan Ferguson, kawasan ini termasuk tipe iklim A dengan curah hujan rata-rata pertahun 3.191 mm.

POTENSI BIOTIK KAWASAN

Flora
Cagar Alam Dungus Iwul merupakan gambaran dari hutan dataran rendah yang dahulunya terhampar luas di bagian utara Jawa Barat. Flora yang tumbuh di kawasan ini di antaranya adalah Iwul (Orania macroladus), Kibentili (Kickseia arborea), Anggrit (Adina polychepala), Dahu (Dracontomelon mangiferum), Ki Hijoer (Quercus blaumena), Ranji (Dialium indum), dan Teureup (Artocarpus elastica).

Fauna
Fauna yang ada adalah jenis burung (aves) seperti Elang pemakan ular (Spilornis cheela), Beo (Gracula religiosa), Merpati yang mirip kakaktua (Treron pamedora pulverulenta) dan lain-lain, sedangkan jenis mamalia di antaranya adalah Lutung (Tracyphithecus auratus), Bajing terbang (Sciurepterus sagitta), Jelarang (Ratufa bicolor).

4. Cagar Alam Gunung Picis

 

Keadaan Fisik

Letak dan Luas
– Wilayah Administratif : Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo.
– Geografis : 07°44′20-07°45′41 LS dan 111°39′12-111°39′44 BT
– Luas : 27,90 Ha

Topografi : Dari sebelah barat sampai ke arah timur topografinya
bergelombang sedang, utara ke selatan topografi curam, dengan kelerengan antara 45°-60°. Ketinggian tempat ±1200 mdpl.

Geologi dan Tanah : Terdiri atas batuan vulkanik sedangkan keadaan tanahnya adalah kompleks mediteran merah kuning, grumusol, latosol, dan batuan-batuan basis serta intermedier.

Iklim :

a. Tipe iklim C dengan nilai Q=57,4% (Schmidt dan
Ferguson).
b. Curah hujan rata-rata tahunan sebesar 2647 mm dengan rata-rata hari hujan sebesar 147 hari.

c. Musim hujan terjadi pada bulan Nopember hingga Mei sedangkan musim kemarau terjadi pada bulan Juni hingga Oktober.

Keadaan Biologi
Tipe Ekosistem : Hutan hujan tropis sub pegunungan
Flora : Vegetasi dominan antara lain morosowo (Engelhardis spicata), pasang (Quercus sondaica), dali (Radermachera gigantea), nyampoh (Litsea glutinosa), pulus (Laportea stimulans).

Fauna : Berbagai jenis burung, lutung (Presbytis cristata), bajing tanah (Lariscus insignus), kadal (Mabouya multifasciata), dll.

5. CAGAR ALAM GUNUNG TILU

KEADAAN FISIK KAWASAN

Letak dan luas
Ditetapkan sebagai Cagar Alam berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor : 68/Kpts/Um/2/1978 tanggal 7-2-1978, seluas 8.000 Ha meliputi wilayah Kecamatan Ciwidey, Pasir Jambu, Pangalengan Kabupaten Bandung.

Topografi
Topografi berbukit, bergunung dengan ketinggian tempat 1.150 � 2.434 meter di atas permukaan laut.

Iklim
Dengan klasifikasi Schmidt dan Ferguson, kawasan ini termasuk dalam tipe iklim B dengan curah hujan rata-rata 2.534 mm per tahun.

POTENSI BIOTIK KAWASAN

Flora
Cagar Alam Gunung Tilu memiliki tipe ekosistem hutan hujan dataran tinggi. Jenis pohon yang mendominasi kawasan ini adalah : Saninten (Casonopsis javanica), Rasamala (Altingia exelsea), Kiputri (Podocarpus sp), Pasang (Quercus sp), Teureup (Artocarpus elasticus), Puspa (Schima walichii), Kondang (Ficus variegata), Tenggeureuk (Castanopsis tunggurut) dan lain-lain.

Fauna
Satwa liar yang ada dalam kawasan ini adalah : Macan Tutul (Panthera pardus), Bajing (Calcoselurus notatus), Kera (Macaca fascicularis), Owa (hybolates moloch), Kijang (Muntiacus Muntjak), Lutung (Trachypitechus auratus), Surili (Presbytis comata), Burung Dederuk (Streptopelia bilorquata), burung perkutut (Geopelia striata), Ular Sanca (Phyton sp) dan lain”.

6. CAGAR ALAM YAN LAPA

KEADAAN FISIK KAWASAN

Luas dan letak
Kawasan Hutan Yan Lapa ditetapkan sebagai Cagar Alam berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor : 137/Kpts/Um/3/1956 tanggal 28-3-1956 seluas 32 Ha. Termasuk ke dalam wilayah Desa Hanjeur, Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor (satu jalur dengan Cagar Alam Dungus Iwul).

Topografi
Topografi Cagar Alam ini secara kesuluruhan relatif datar dengan ketinggian tempat � 1.350 m di atas permukaan laut.

Iklim
Menurut Schmidt dan Ferguson, Cagar Alam Yan Lapa memiliki tipe iklim A dengan curah hujan rata-rata per tahun 2.399 m yang diukur di daerah Nirmala.

POTENSI BIOTIK KAWASAN

Flora
Vegetasi Cagar Alam Yan Lapa merupakan vegetasi hutan hujan dataran tinggi. Flora yang terdapat di cagar alam ini adalah Pahlalar (Dipterocarpus haseltii), Jatake (Bouea gandaria), Jaha (Terminalia belirica). Sempur (Dilenia obovata), Teureup (Artocarpus elastica), Laban (Vitex pubescens) dan lain-lain.

Fauna
Beberapa jenis satwa liar yang ada dalam kawasan ini yaitu dari golongan mamalia, aves, reptilia dan inserta. Di antaranya yaitu : Lutung (Tracypithecus auratus), Kera (Macaca fascicularis), Burung Kerak (Acridotheres fuscus javanicus), burung dudut (Centropus bengalensis) dan lain-lain.

 

7. CAGAR ALAM PULAU BOKOR

Menurut Undang-undang No.5 Tahun 1990 tentang Konservasi Suber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, Cagar Alam adalah kawasan suaka alam karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tunbuhan, satwa, dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami

Di wilayah kerja Balai Konservasi Sumber Daya Aam DKI Jakarta terdapat kawasan Cagar Alam yakni Pulau Bokor, kawasan ini ditetapkan sebagai Cagar Alam berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Nomor : 7 tanggal 3 Mei 1939 (staadblad 245) dengan luas 18 Ha.

Secara geografis kawasan Cagar Alam Pulau Bokor terletak sejajar dengan Pulau Rambut yaitu sebelah barat dengan jarak kurang lebih 3,5 mil laut, secara administratif termasuk kedalam wilayah Kelurahan Pulau Lancang. Kawasan ini merupakan pulau tak berpayau dengan pantai berpasir putih. Adapun jenis-jenis pohon yang tumbuh di kawasan Cagar Alam Pulau Bokor adalah jenis-jenis pohon pantai seperti Kepuh, Ketapang, Asam dan Melinjo.

Walaupun jaraknya relatif berdekatan dengan kawasan Suaka Margasatwa Pulau Rambut namun kawasan Cagar Alam Pulau Bokor tidak banyak dihuni oleh burung-burung air, sedangkan satwa yang banyak dijumpai adalah satwa primata jenis Kera Ekor Panjang sebagai satwa introduksi.

8. CAGAR ALAM RIMBO PANTI

 

Cagar Alam Rimbo Panti salah satunya. Taman wisata ke­banggaan masyarakat Panti ini memiliki panorama alam yang indah, sejuk, dan di­tumbuhi banyak pohon rin­dang. Taman berupa hutan (rimbo = rimba – red) alam ini berada di nagari Panti kecamatan Panti, Kabupaten Pasaman. Kecamatan Panti memiliki taman wisata air panas.

Cagar alam Rimbo Panti terletak 30 km dari ibukota Kabupaten Pasaman arah utara menuju perbatasan provinsi Sumatra Barat de­ngan provinsi Sumatra Utara. Artinya kalau pengunjung dari Bukittinggi, setelah sampai di Lubuk Sikaping akan menempuh jalan sekitar 30 km lagi atau 30 menit perja­lanan barulah Anda akan memasuki kawasan cagar alam tersebut dengan terlebih dahulu menjumpai sebuah gapura mungil yang bertu­liskan “Selamat Datang di Cagar Alam Rimbo Panti”

Memasuki rimbo Panti, udara yang sejuk karena memang ditumbuhi oleh pepo­honan besar yang sudah tum­buh sejak lama dan masih terawat akan dijumpai di kiri dan kanan Anda. Lebih kurang dua kilo meter berikutnya akan dijumpai taman bermain dan tempat parkir kendaraan disebelah kanan kita. Di sana (dekat tempat parkir tersebut) ada para pedagang yang akan memanjakan selera para pengunjungnya. Masih ditem­pat yang sama ada juga taman bermain untuk kelu­arga berupa ayunan, goa mo­nyet, kuda-kudaan dan hari­mau-harimauan. Maksudnya kalau kesana libur dengan keluarga akan terisi dengan baik.

Untuk kepentingan keil­muan, dilokasi yang sama (tempat parkir) ada herba­rium didalamnya tersimpan berbagai nama dan spesies tumbuh-tumbuhan dan hewan-hewan yang ada di cagar alam Rimbo Panti tersebut. Dihari-hari tertentu tempat itu diramaikan oleh para peneliti biasanya dari mahasiswa UNAND dan UNP.

9. CAGAR ALAM LEMBAH ANAI

 

Cagar Alam Lembah Anai merupakan salah satu kawasan hutan lindung yang  terdapat di Sumatra Barat. Kawasan ini memiliki hamparan hutan hujan  tropik yang lebat dengan aneka ragam jenis flora dan fauna. Hutan yang  terletak di jalan raya menghubungkan Kota Padang Bukittinggi ini, ditetapkan sebagai kawasan konservasi cagar alam semenjak pemerintahan Kolonial Belanda.
Hal ini dapat diketahui melalui surat keputusan No. 25 Stbl No. 756 yang dikeluarkan pada tanggal 18 Desember 1922 oleh pemerintah Hindia Belanda. Saat itu, kawasan yang ditetapkan sebagai cagar alam mencakup areal seluas 221 ha dan masih dipertahankan hingga sekarang. Walaupun penetapan hutan Lembah Anai menjadi kawasan cagar  alam sudah cukup lama, tetapi keberadaannya bisa dibilang kurang  dikenal. Hal ini disebabkan, kurangnya sosialisasi dan promosi yang dilakukan oleh pemerintah daerah Kabupaten Tanah Datar. Di samping itu,daya tariK obyek wisata Air Terjun Lembah Anai lebih banyak dikenal dari pada Cagar Alam Lembah Anai. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hutan Lembah Anai berfungsi untuk menjaga kelestarian dan keseimbangan  ekosistem alam agar tidak rusak dan tercemar. Lebatnya Hutan Lembah Anai berguna sebagai penjaga kestabilan iklim mikro, memasok produksi oksigen, dan menyerap CO2. Oleh sebab itu, keberadaan kawasan Cagar Alam  Lembah Anai bisa menjadi paru-paru alam untuk sirkulasi udara di Provinsi Sumatra Barat.

 

Keistimewaan

Banyak keistimewaan yang terdapat di dalam Cagar Alam Lembah Anai, mulai dari keindahan alam hingga kekayaan flora dan fauna langka. Keindahan alam yang dapat disaksikan, yaitu tiga air terjun dan satu telaga yang airnya berwarna kebiru-biruan. Ketiga air terjun tersebut terletak di  bagian barat Cagar Alam Lembah Anai. Salah satu di antaranya terletak di pinggir jalan yang sering dikenal dengan Air Terjun Lembah Anai  Sementara dua air terjun lainnya tertutup oleh lebatnya hutan, sehingga belum banyak dikenal oleh masyarakat luas.
Bagi para wisatawan yang ingin menyaksikan dua air  terjun tersebut dapat menempuh perjalanan sekitar 15 menit dari lokasi Air Terjun Lembah Anai. Para pelancong yang penasaran dengan keindahan panorama telaga juga dapat menyaksikannya dengan menempuh perjalanan  sekitar 15 menit dari tepi jalan raya.

Di dalam rindangnya hutan terdapat beberapa tanaman langka yang sekaligus menjadi daya tarik dari Cagar Alam Lembah Anai, salah satunya adalah bunga bangkai (amorphyphalus titanum). Bunga bangkai ini tumbuh subur di tengah hutan. Selain bunga bangkai ada juga beberapa tumbuhan kayu yang menjadi daya tarik kawasan cagar alam ini, di antaranya cangar, sapek, madang siapi-api (litsea adinantera),  cubadak cempedak air (artocarpus sp ), madang babulu (gironniera nervosa), dan lain-lain.

Ada pula hewan langka yang hampir punah, di antaranya harimau sumatra  (phantera tigris sumatrensis/, rusa (cervius timorensis), siamang (hylobates syndactylus), kera ekor panjang (macaca fascicu- laris,) beruk (macaca nemestrena), trenggiling (manis java- nica/), kancil (tragulus sp), tapir, dan biawak. Hewan yang sering dijumpai oleh wisatawan ketika melewati kawasan ini, adalah kera ekor panjang, siamang, dan beruk. Ketiga hewan ini selalu bergerak untuk mencari buah-buahan yang terdapat di kawasan hutan hingga ke pinggir jalan raya. Sementara itu, untuk melihat hewan yang lain diperlukan tenaga pendamping yang mengantar pengunjung langsung ke tempat hewan tersebut biasa bermain dan mencari makan.  Selain hewan-hewan tersebut, Cagar Alam Lembah Anai juga dihuni oleh aneka burung, seperti elang (acipitriade sp), burung balam (bolumbidae), burung punai, dan burung puyuh. Burung elang biasanya hidup di atas pohon tinggi. Apabila beruntung, wisatawan dapat melihatnya ketika burung tersebut terbang mengelilingi hutan untuk mencari mangsa.

Kawasan Hutan Cagar Alam Lembah Anai ini merupakan rumah bagi berbagai macam kupu-kupu (troides neo miranda). Hasil penelitian beberapa mahasiswa Universitas Andalas (UNAND) Padang meneyebutkan, di sekitar Cagar Alam Lembah Anai terdapat sekitar 60 jenis populasi  kupu-kupu. Aneka kupu-kupu tersebut selalu menghiasi hutan di kala pagi menjelang siang dengan warna-warni yang menawan.

 

Lokasi

Cagar Alam Lembah Anai terletak di Kecamatan X (Sepuluh) Koto, Kabupaten

Tanah Datar, Provinsi Sumatra Barat, Indonesia.

 

10. CAGAR ALAM PULAU SEMPU

 

 
 

 

 

 

 

 

A. Dasar Penunjukan dan Luas

Kawasan hutan Pulau Sempu ditunjuk sebagai Cagar Alam berdasarkan Besluit van den Gouverneur Generaal van Nederlandsch Indie No : 69 dan No.46 tanggal 15 Maret 1928 tentang Aanwijzing van het natourmonument Poelau Sempoe dengan luas 877 ha.

B. Letak /Lokasi

Secara administratif Cagar Alam Pulau Sempu terletak di Dusun Sendang Biru, Desa Tambak Rejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang Provinsi Jawa Timur. Sedangkan secara geografis terletak antara 112°40’45” Bujur Timur dan 8°24’54” Lintang Selatan. 

C. Potensi Kawasan

• Flora :  

Cagar Alam Pulau Sempu memiliki beberapa tipe ekosistem, mulai dari hutan pantai, mangrove, dan hutan tropis dataran rendah yang hampir mendominasi keseluruhan area pulau. Jenis vegetasi yang dapat ditemukan di seluruh area Pulau Sempu antara lain bendo (Artocarpus elasticus), triwulan (Terminalia), wadang (Pterocarpus javanicus), dan Buchanania arborescens. Tutupan vegetasi sampai saat ini masih sangat baik. Vegetasi hutan pantai didominasi oleh Baringtonia raceunosa, nyamplung (Calophylum inophylum), ketapang (Terminalia catappa), waru laut (Hibiscus tiliaceus) dan pandan (Pandanus tectorius). Terdapat 4 (empat) jenis vegetasi mangrove yang dapat dijumpai, yaitu bakau ditemukan dua jenis ( Rhizophora mucronata dan Rhizophora apiculata), api-api (Avicennia sp.) dan tancang (Bruguiera sp).

• Fauna : 

Jenis satwa liar yang terdapat di kawasan CA Pulau Sempu antara lain : lutung jawa (Tracypithecus auratus), kera hitam (Presbitis cristata pyrrha) , kera abu-abu (Macaca fascicularis), babi hutan (Sus sp), kijang (Muntiacus muntjak), kancil (Tragulus javanicus), raja udang (Alcedo athis), ikan belodok (Periopthalmus sp), kepiting (Ocypoda stimsoni), dan kelomang (Dardanus arropsor), kupu-kupu (Sastragala sp) dan semut (Hymenoptera).

D. Keunikan/Kekhasan 

Kawasan ini memiliki beberapa tipe ekosistem antara lain tipe ekosistem hutan mangrove, hutan pantai dan hutan hujan tropis dataran rendah. Keunikan lain adalah  ekosistem Segara Anakan yang merupakan danau di dalam kawasan yang airnya berasal dari air laut yang melewati celah/ karang berlubang (bolong).

By. @NurfirstaVita

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s