Kedudukan Wanita dalam Islam

Makna Wanita dalam Islam

1. Pengertian Wanita dalam Islam
Wanita adalah sebutan yang digunakan untuk manusia berjenis kelamin dan mempunyai alat reproduksi berupa vagina. Lawan jenis dari wanita dalah pria atau laki-laki.
Secara terminology, wanita adalah kata yang umum digunakan untuk menggambarakan perempuan dewasa. Perempuan yang sudah menikah juga biasa dipanggil dengan sebutan ibu. Untuk perempuan yang belum menikah atau berada pada masa remaja disebut juga dengan anak gadis.

2. Pengertian Wanita dalam Keluarga
Pengertian wanita dalam keluarga adalah seorang istri atau seorang ibu. Seorang wanita disebut sebagai seorang istri apabila di dalam keluarga baru ada seorang suami dan istri. Sehingga perannya sebagai seorang istri untuk suami. Dan peran wanita sebagai ibu, ketika ia mempunyai anak.

Dalil Al-Qur’an tentang Wanita

– Dalil tentang Allah swt.menciptakan wanita sebagai pendamping laki-laki. Yaitu dalam Surah An-Nisa ayat 1.
Artinya:
“Hai sekalian manusia bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari nafs yang satu (sama) dan darinya Allâh menciptakan pasangannya dan dari keduanya Allâh memperkembangkan lelaki dan perempuan yang banyak.” (QS al-Ni’â’ [4]: 1)
– Dalil tentang Allah swt. Manjadikan wanita sebagai ibu dari anak-anaknya. Yaitu dalam Surah Al-Isra ayat 23-24:

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sakali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkatan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.
Dan rendahkan;ah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah : “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”
Wanita dan Laki-laki dalam Pandangan Islam
Manusia, baik itu laki-laki maupun perempuan adalah ciptaan Allah yang menduduki kemuliaan tertinggi di muka bumi ini yang dibekali dengan akal dan intuisi pada segala macam keadaan. Kehadiran manusia merupakan puncak ciptaan Tuhan. Dia adalah wakil Tuhan atau khalifah di muka bumi ini. Menurut fitrah kejadiannya, manusia diciptakan bebas dan merdeka, dalam pengertian bahwa berbuat sesuai kehendak tanpa paksaan yang didorong oleh kemauan yang murni untuk mencapai keridlaan Allah SWT sebagai Sang Pencipta dan supaya bagaimana mereka dapat berperan dalam masyarakat.
Kedudukan laki-laki dan perempuan pada dasarnya adalah sama dalam Al-Quran sebagai rujukan prinsip dasar masyarakat Islam. Keduanya diciptakan dengan tidak memiliki keunggulan satu terhadap yang lain. Atas dasar itu, prinsip Al-Quran terhadap hak kaum laki-laki dan perempuan adalah sama, dimana hak istri adalah diakui secara adil dengan hak suami. Laki-laki memiliki hak dan kewajiban atas perempuan, dan kaum perempuan juga memiliki hak dan kewajiban terhadap laki-laki.
Ajaran Al-Quran tentang perempuan merupakan bagian dari usaha untuk menguatkan dan juga memperbaiki posisi lemah perempuan dalam kehidupan masyarakat Arab pra-Islam. Ajaran Islam memberikan porsi perhatian yang besar dan kedudukan yang terhormat kepada perempuan.

Perbedaaan Wanita dan Laki-laki dalam Pandangan Islam
Islam memandang lelaki dan wanita sama dalam penciptaan dan kemuliaannya, namun berbeda dalam hal fungsi dan penempatannya. Islam memberikan porsi khusus kepada wanita yang tidak diberikan kepada lelaki, sebaliknya islam juga memberikan porsi khusus kepada lelaki yang tidak diberikan kepada wanita.
Wanita dan lelaki berbeda secara fungsi dan penempatan, karena itulah aktivitas lelaki dan wanita tidak disamakan, namun terpisah secara asalnya.
Misalnya, Islam menggaris bahwa perempuan harus menutup aurat di hadapan lelaki yang bukan mahramnya, memerintahkan perempuan untuk menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan dan kemuliaannya dihadapan lelaki. Tidak melakukan tabbaruj yang dapat menggoda lelaki. Bahkan dalam beberapa pendapat, tidak melakukan tabbaruj, salah satunya adalah tidak melewati kerumunan lelaki dengan bertingkah menggoda.
Islam juga mewajibkan wanita berpergian dengan mahram, tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang mengundang fitnah bagi dirinya semisal berkhalwat dengan lelaki yang bukan muhrim.
Islam pun memberikan batasan bagi Muslim secara umum untuk meminta izin dan memberikan salam sebelum memasuki rumah yang bukan rumahnya. Sehingga wanita didalam rumah yang tidak menutup aurat bisa mempersiapkan diri sebelum menerima tamu.
Dalam shalat, lelaki diperintahkan oleh Rasulullah SAW., untuk melakukannya secara berjamaah di Masjid, tidak diperintahkan bagi wanita walau boleh saja mereka ikut berjamaah di Masjid. Shalat melakukan shalat berjamaah pun Rasulullah SAW., memisahkan barisan antara lelaki yang ada di depan dengan wanita shaf kaum wanita dibelakang.
Semua ini jelas diamalkan pada masa Rasulullah SAW., yaitu pemisahan antara kehidupan lelaki dan kehidupan wanita. Pemisahan ini bukan ditujukan untuk mengekang dan menyusahkan, tetapi menjaga kehormatan dan kemuliaan wanita itu sendiri, menjaga masa depannya agar penuh dengan kebaikan.
Namun Islam tidak menyusahkan lelaki maupun wanita dalam melakukan hal-hal yang memang jelas dan perlu, syariat membolehkan interaksi antara lelaki dan wanita, Keduanya diperbolehkan melaksanakan jual beli, belajar-mengajar, ibadah semisal haji dan umrah, berjihad dijalan Allah, dan lain sebagainya.
Juga diperbolehkan bagi lelaki dan wanita berinteraksi dalam perkara yang diperbolehkan syariat, semisal medis, peradilan, perdagangan, pendidikan, akad kerja, dan segala aktivitas syar’i yang memang menuntut adanya interaksi di antara lelaki dan wanita.

Kedudukan Wanita Berdasarkan Hukum Islam

1. Kedudukan Wanita sebelum Islam
Sebelum islam atau pada amsa jahiliyah, diamana belum ada rasul yang diutus dan cahaya petunjuk semakin redup. Pada masa itu, kaum perempuan pada umumnya hidup dalam situasi yang sulit, apalagi di kalangan masyarakat Arab.
Kesewenang-wenangan dan penindasan mewarnai hari-hari kaum perempuan dalam kegelapan alam jahiliyyah, baik di kalangan bangsa Arab maupun di kalangan ‘ajam (non Arab). Perlakuan jahat dan ketidaksukaan orang-orang jahiliyyah terhadap perempuan ini tertera dalam Al-Qur’ânul:
Q.S Al-Nahl ayat 58-59

“Apabila salah seorang dari mereka diberi kabar gembira dengan kelahiran anak perempuan, menjadi merah padamlah wajahnya dalam keadaan ia menahan amarah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak karena buruknya berita yang disampaikan kepadanya. (Ia berpikir) apakah ia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya hidup-hidup di dalam tanah? Ketahuilah alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (QS al-Nahl [16]: 58-59).
Al-Hâfizh Ibnu Katsîr rahimahullâhu menyatakan bahwa anak perempuan itu dikubur hidup-hidup oleh orang-orang jahiliyyah karena mereka tidak suka dengan anak perempuan. Apabila anak perempuan itu selamat dari tindakan tersebut dan tetap hidup maka ia hidup dalam keadaan dihinakan, ditindas dan didzalimi, tidak diberikan hak waris walaupun si perempuan sangat butuh karena fakirnya. Bahkan justru ia menjadi salah satu benda warisan bagi anak laki-laki suaminya apabila suaminya meninggal dunia. Dan seorang pria dalam adat jahiliyyah berhak menikahi berapa pun perempuan yang diinginkannya tanpa ada batasan dan tanpa memerhatikan hak-hak para istrinya.
Ini kenyataan di kalangan bangsa Arab sebelum diutusnya Rasulullah, kenyataan buruk yang sama juga terdapat pada bangsa-bangsa lain. Mereka menempatkan perempuan tidak lebih dari sekedar barang murahan yang bebas untuk diperjualbelikan di pasaran. Perempuan di sisi mereka tidak memiliki kemerdekaan dan kedudukan, tidak pula diberi hak waris.
2. Kedudukan Wanita dalam Pandangan Islam
Seorang wanita dalam pandangan islam dan tradisi masyarakat memiliki kedudukan yang cukup komplek. Ketika islam datang, kezaliman-kezaliman terhadap wanita dihapus dan martabatnya sebagai manusia dikembalikan. Allah swt. berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 13:

Pada ayat ini, Allah swt. menyebutkan bahwa wanita memiliki kedudukan yang sama dengan laki-laki sebagai manusia. Dengan begitu, ia juga memiliki kedudukan yang sama dengan laki-laki dalam hal mendapatkan pahala dan hukuman atas apa yang diperbuatnya.
Dalam Surah lain pun Allah berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 97:

Dalam Islam, wanita adalah bagian dari laki-laki demikian pula laki-laki adalah bagian dari wanita, keduanya bersifat saling melengkapi. Hal ini dijelaskan dalam Surah Ali’-Imran ayat 195:

Artinya:
Maka Rabb mereka mengabulkan (doa-doa mereka) bahwasanya Aku tidak menyia-nyiakan amalan seseorang dari kalangan kalian, baik itu lelaki maupun perempuan. Sebagian kalian dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, dikeluarkan dari kampung-kampung mereka dan diganggu dalam jalan-Ku, dan mereka berperang dan terbunuh, sungguh akan Aku hapus kejelekan-kejelekan mereka dan akan Aku masukkan mereka ke dalam surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. (Hal itu adalah) sebagai ganjaran dari Allah. Dan hanya ada pada Allah-lah baiknya ganjaran.
Islam memandang wanita memiliki banyak keistimewaan. Di dalam Al-Qur’an telah banyak memberitahukan tentang kedudukan wanita dan emansipasinya dengan kaum laki-laki. Wanita memiliki esensi dan identitas yang sama dengan laki-laki. Bahkan satu surat di dalam Al-Qur’an mengandung nama perempuan yakni surat “An-Nisa“. Rasulullah SAW ketika ditanya siapa orang yang paling berhak untuk dihormati dan didahulukan, beliau menjawab “ibumu! ibumu! ibumu! kemudian ayahmu“. Sehingga wanita begitu mulia dalam pandangan Islam.
Wanita muslimah sesungguhnya memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam dan sangat berpengaruh pada kehidupan setiap manusia. Diantara kedudukan tersebut adalah :

1. Wanita Sebagai Hamba Allah
Seorang perempuan mempunyai tanggung jawab yang sama dengan laki-laki dalam kedudukannya sebgai hamba Allah, yakni sama-sama mempunyai kewajiban untuk mengabdikan diri kepada Allah SWT. Dalam firmanNya dikatakan,

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah”(QS Adz Dzariat : 56).

Hakikat hidup manusia, termasuk di dalamnya adalah seorang perempuan adalah untuk beribadah dan mencari keridlaan Allah SWT. Ibadah dapat meliputi salat, puasa, zakat, dan haji, namun juga ibadah yang yang sifatnya mencakup seluruh aktivitas kebaikan hidup di seluruh aspek. Hal tersebut dapat terlaksana melalui adanya keterikatan pribadinya sendiri dengan peraturan-peraturan dari yang telah Allah tetapkan.

2. Kedudukan Wanita dalam Keluarga
a. Sebagai seorang istri
Kedudukan seorang wanita sebagai istri dalam keluarga wajib melakukan berbagai bentuk kewajiban terhadap seorang suami. Karena suami menjadi pemimpin dalam keluarga. Di antara bentuk kewajiban seorang wanita yang berkedudukan sebagai istri dari seorang suami adalah sebagai berikut.
– Wajib taat dan patuh terhadap suami
– Wajib menghormati suami
– Wajib member pelayanan dengan baik kepada suami
– Wajib menjaga nama baik dan menutupi aib suami
– Wajib menjadikan suami sebagai pemimpin keluarga

Kedudukan posisi seorang istri dan pengaruhnya terhadap ketenangan jiwa seorang suami. Allah berfirman dalam Surah Ar-Rum ayat 21:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan menjadikan rasa kasih dan sayang di antara kalian.” (QS. Ar- Rum: 21).
Seorang istri adalah sahabat bagi suaminya. Di dalamnya melekat segala kewajiban yang harus dilaksanakan kepada suaminya.

b. Sebagai seorang ibu
Sebagai seorang ibu dari anak-anak, seorang wanita dalam keluarga wajib untuk memberikan hak-hak anak dengan baik dan sempurna. Dia ntara bentuk kewajiban seorang ibu terhadap anak-anak adalah sebagai berikut.
– Kewajiban untuk memberikan ASI
– Kewajiban untuk memberikan kasih saying secara sempurna
– Kewajiban untuk memberikan makanan yang halal dan bergizi
– Kewajiban untuk memberikan jaminan kesehatan.
Dijelaskan dalam Al-Quran betapa pentingnya peran perempuan sebagai ibu, istri, saudara perempuan, maupun sebagai anak yang berbakti. Demikian juga dengan hak-hak dan kewajibannya. Peran permpuan adakalnya sangat berat, bahkan bisa sampai semisal harus menanggung beban-beban yang semestinya dipikul oleh laki-laki. Oleh karena itu, menjadi suatu keharusan bagi kita untuk selalu berterimasih kepada ibu, berbakti, dan bersikap baik padanya. Posisi ibu terhadap anak-anaknya lebih didahulukan dari ayah. Disebutkan dalam firman Allah,

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun.Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu. Hanya kepada-Ku lah kamu akan kembali. ” (QS. Luqman: 14).
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa pernah ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah dan berkata, “Wahai Rasulullah, siapa orang yang paling berhak untuk aku untuk berlaku bajik kepadanya?” Nabi menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Kemudian setelah dia siapa? “Nabi menjawab,” Ibumu. “Orang itu bertanya lagi,” Kemudian setelah dia siapa? “Nabi menjawab,” Ibumu. “Orang itu bertanya lagi,” Kemudian setelah dia siapa? “Nabi menjawab,” Ayahmu. ” (HR. Bukhari-Muslim). Besarnya bakti seorang anak kepada ibunya dianjurkan untuk tiga kali lebih hormat dari bakti kepada ayahnya.

c. Sebagai seorang pendidik
Selain sebagai seorang ibu, seorang wanita juga sebagai seorang pendidik yang sangat menentukan terhadap masa depan dari anak-anak. Karena seorang wanita memiliki kesabaran dan mendidik dengan hati serta penuh dengan keikhlasan. Sehingga keberadaan seorang wanita dalam keluarga sangat menentukan terhadap terwujudnya suatu bangsa yang baik, sebagaiman syair Muhammad Hafiz bin Ibrahim sebagai berikut.
Seorang ibu adalah madrasah (sekolah).
Jika anda mempersiapkan dengan baik.
Niscaya anda menyiapkan bangsa yang sangat bagus keturunannya.
Sebagai seorang pendidik utama terhadap anak-anaknya dalam kehidupan keluarga, seorang wanita wajib untuk hal-hal berikut ini.
– Mengenalkan kepada anak untuk membaca dan menulis
– Memberikan teladan dan perilaku yang baik kepada anak-anak
– Membimbing segala bentuk kesulitan kepada anak-anak dengan penuh kesabaran
– Mendidik anak sesuai tingkat perkembangan
“Al-ummu madrosatul uulaa”, ibu adalah madrasah pertama. Peran tersebut adalah dalam kapasitasnya membangun keluarga dan masyarakat yang shalih selama dia berada pada jalan Al-Quran dan sunnah Nabi yang akan menjauhkan setiap muslim dan muslimah dari kesesatan segala hal. Ibu adalah pembuka ilmu pertama bagi anaknya. Darinya, anak pertama kali belajar, sehingga dia mempunyai pengaruh yang besar dalam tumbuh kembang dan pola pikir anak-anaknya dalam membina generasi masa depan yang baik. Perempuan adalah tiang negara.
3. Kedudukan wanita dalam urusan ekonomi
Didorong oleh adanya pemenuhan kebutuhan keluarga, terutama dalam kebutuhan pendidikan masa depan anak, tidak jarang seorang wanita ikut bekerja membantu seorang suami. Sehingga tidak sedikit seorang wanita yang bekerja di kantor,di perusahaan, bekerja swasta dan jenis pekerjaan lainnya. Keadaan demikian masih dibenarkan oleh ajaran islam, sepanjang seorang wanita dalam keluarga tidak kehilangan fitrahnya sebagai seorang ibu.
4. Kedudukan wanita dalam hukum waris
Walaupun hak wanita adalah sebagian dari hak laki-laki dalam penerimaan harta waris,tetapi hak tersebut memiliki kedudukan yang kuat dan tidak dapat dibatalkan oleh seorang laki-laki. Firman Allah swt. dalam surah An-Nisa ayat 7 berikut.

Artinya:
“Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu bapak dan kerabatnya, dan bagi wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu bapak dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian yang telah ditetapkan. (QS. An-Nisaa’: 7)
5. Kedudukan wanita dalam memperoleh pendidikan dan ilmu pengetahuan
Tidak ada perbedaan antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan dalam memperoleh pendidikan dan ilmu pengetahuan. Bahkan ajaran Islam memberikan perlindungan yang kuat antara laki-laki dengan perempuan dalam memperoleh pelayanan pendidikan. Hukumnya wajib bagi laki-laki dan perempuan dalam menuntut ilmu.
6. Kedudukan wanita dalam dunia politik
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka adalah awliya’ bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh untuk mengerjakan yang ma’ruf, mencegah yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”(At-Taubah:71). Ayat tersebut merupakan ayat yang seringkali dikaitkan dengan hak-hak politik kaum perempuan sebagai gambaran tentang kewajiban melakukan kerjasama antar lelaki dan perempuan dalam berbagai bidang kehidupan yang dilikiskan dengan kalimat peintah menyuruh untuk mengerjakan perkara ma’ruf dan mencegah kemunkaran.

Hak-Hak Wanita Berdasarkan Hukum Islam

1. Hak Seorang Wanita dalam Keluarga
Di dalam keluarga,seorang wanita memiliki hak yang dilindungi oleh aturan hukum, baik hukum agama,maupun hukum positif. Perlindungan hokum tersebut diberikan kepada seorang wanita sesuai perannya.seorang wanita bagi suami dan sebagai seorang ibu bagi anak-anaknya.
a.) Sebagai seorang istri bagi suami
Sebagai seorang istri, wanita memiliki hak-hak sebagai berikut.
– Memperoleh bimbingan secara terus menerus dari suami
Artinya, seorang istri secara intensif sangat perlu untuk memperoleh dan bimbingan dari seorang suami. Sehingga seorang istri selalu berda di jalan Allah swt.
– Memperoleh perlindungan dari suami
Perlindungan yang dimaksud adalah perlindungan dari berbagai situasi yang kurang menguntungkan, seperti hujatan, hinaan, cercaan dan sejenisnya dari pihak lain, sehingga seorang wanita memiliki rasa aman dan nyaman dalam kehidupan keluarga.
– Memperoleh nafkah lahir dan batin dari suami
Nafkah lahir yang dimaksud adalah kebutuhan makan dan minum, pakaian, tempat tinggal, dan jaminan kesehatan. Sedangkan nafkah batin, seperti: perhatian, penghargaan, pengakuan, kasih saying dan sejenisnya
– Dipergauli secara patut dan layak serta penuh kasih saying
b.) Sebagai seorang ibu dan pendidik bagi anak-anaknya
Sebagai seorang ibu dan pendiddik anak dalamkeluarga, hak-hak wanita sebagai berikut.
– Dihormati dan ditaati oleh anak
Bentuk penghormatan dan ketaatan seorang anak kepada seorang ibu menjadi bentuk kewajiban seorang anak setelah berbakti kepada Allah swt.
– Sebagai tempat berbakti dan merendahkan diri (tawadhu’)
Seorang ibu berhak dijadikan tempat berbakti dan merendahkan diri bagi anak-anaknya. Bentuk berbakti dan merendahkan diri adalah senantiasa berbuat baik, berkata santun, menanggung kehidupan setelah usia lanjut dan sebagainya. Hal tersebut sesuai dengan firman Allah swt. dalam surah Al-Ankabut ayat 8 berikut.

Artinya:
Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
– Didoakan setiap saat oleh anak-anaknya
Seorang anak harus mendoakan orang tuanya setiap saat, baik saat masih hidup maupun sudah meninggal. Doa yang dilantunkan oleh seorang anak kepada orang tua adalah kebaikan dunia akhirat.
– Dimintai ridha dan izin dalam segala persoalan
Ketika melakukan sesuatu, seorang anak berkeinginan untuk tercapai. Karena itu, agar keinginan dan cita-cita seorang anak tercapai, seorang anak wajib mohon izin, ridha, doa orang tua, utamanya seorang ibu. Karena keridhaan Allah bergantung pada keridhaan kedua orang tua.
– Ditunaikan wasianya
Apabila orang tua atau ibu bapak sudah usia lanjut dan sebelum meninggal diperintahkan oleh ajaran islam memberikan wasiat kepada anak-anaknya. Wasiat tersebut wajib dilakukan oleh anak-anaknya, setelah pemberi wasiat meninggal. Sepanjang wasiat tersebut dalam kebaikan.

2. Hak Seorang Wanita dalam Berbagai Bidang
Al-Quran yang menerangkan perempuan dalam berbagai ayatnya. Secara umum surat Al-Nisa ‘ayat 32 menerangkan,

“Untuk lelaki hak (bagian) dari apa yang dianugerahkan kepadanya dan bagi perempuan hak (bagian) dari apa yang dianugerahkan kepadanya”.
Ayat inilah yang menjadi simbol bahwa dipersilahkan bagi perempuan mendapatkan hak-haknya di hadapan manusia lain. Berikut ini adalah beberapa hak yang dimiliki oleh kaum perempuan menurut pandangan ajaran Islam.

1.Hak-hak Kemanusiaan
Diantara hak-hak kemanusiaan antara lain;
– hak hidup,
– hak mendapat kemuliaan,
– hak kesetaraan dengan laki-laki, dan
– hak mengemukakan pendapat dan musyawarah.
Sejak awal, Islam telah memberikan hak kepada perempuan untuk berpendapat dan disertakan dalam musyawarah. Hak itu sebelumnya dibelenggu di era jahiliyah.

2. Hak-hak Ekonomi
Hak-hak ekonomi perempuan meliputi hak kepemilikan dan pengelolaan. Islam memberikan kebebasan terhadap perempuan dalam hal pengelolaan dan urusannya dalam harta, perdagangan, akad jual beli, persewaan, perserikatan, dan sebagainya. Perempuan juga diperbolehkan untuk menetapkan mahar yang akan diterima dari calon suaminya.

3. Hak-hak Sosial
Diantara hak-hak tersebut antara lain:
– Mendapatkan perlakuan baik
Perempuan dalam suatu lingkaran tertentu berhak mendapatkan perlakuan baik dari manusia lain, baik posisinya dia sebagai saudari, anak, ibu, istri, atau nenek.
– Memilih suami
Dalam menerima pinangan seorang laki-laki, maka perempuan memiliki hak untuk menerima dan menolak khitbah tersebut.
– Mendapatkan nafkah
Merupakan kewajiban dan tanggung jawab bagi para suami dan seorang ayah untuk menafkahi keluarganya, bagi istrinya, bagi anak laki-laki dan perempuannya. Nafkah tersebut harus bersumber dari segala pekerjaan dan usaha yang halal.
– Mendapatkan warisan
Secara garis besar, teori hukum warisan untuk wanita separuh dari lelaki bukan merupakan suatu bentuk diskriminasi Islam terhadap perempuan, sudah sangat adil jika dalam konteks arab pra-Islam yang mana wanita sama sekali tidak mendapatkan warisan, bahkan wanita menjadi barang yang diwariskan kepada anaknya. hukum warisan adalah salah satu hukum yang diturunkan secara detail langsung dari Allah. Jika perintah shalat, zakat, puasa dan naik haji hanya dijelaskan secara global, peraturan pembagian warisan telah terperinci langsung dari sumbernya. Dalam Al-Qur’an terdapat ayat yang menerangkan bahwa hak wanita adalah separuh dari hak lelaki,

“Allah mewasiatkan kepadamu tentang anak-anakmu, yang lelaki hendaklah mendapatkan dua kali dari hak wanita” (QS. An-Nisa : 11), namun itu bukanlah sebuah patokan utama dalam warisan.
Dalam islam, seorang lelaki diwajibkan untuk menafkahi istri dan keturunannya, sedangkan wanita tidak dibebankan dengan hal itu.
– Mendapatkan mahar
Mahar merupakan harta yang diberikan pihak calon suami kepada calon istrinya untuk dimiliki sebagai penghalal hubungan mereka. Calon suami boleh memberikan mahar berapapun asal pihak calon istri setuju. Mahar ini menjadi hak calon istri sepenuhnya, sehingga bentuk dan nilai mahar ini pun sangat dapat ditentukan oleh kehendak calon istri. Mahar dapat berbentuk uang, benda atau pun jasa, tergantung kesesuaian pihak calon istri.
– Mendapatkan pendidikan dan pengajaran
Berbicara tentang kewajiban belajar atau menuntut ilmu bagi laki-laki dan perempuan, telah banyak ayat Al-Quran yang membeberkan tentang hal tersebut. Salah satunya adalah wahyu pertama Al-Quran surat Al’Alaq ayat 1 sampai 5 yang berisi perintah untuk membaca atau belajar. “. Dalam surat Al-Baqarah ayat 31-34 diterangkan pula bahwa keistimewaan manusialah yang menjadikan para malaikat diperintahkan oleh Allah sujud kepadanya karena manusia memiliki pengetahuan.
Baik laki-laki maupun perempuan diperintahkan untuk mencari ilmu sebanyak mungkin demi kemaslahatan hidupnya. “Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap muslim laki-laki dan muslim perempuan”.
– Beraktifitas
Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Islam membenarkan perempuan aktif dalam beraktivitas. Perempuan dapat bekerja di berbagai bidang, baik secara mandiri atau relasi, di dalam atau di luar rumah, milik pemerintah atau swasta, asalkan masih dalam koridor yang sopan, terhormat, tidak menimbulkan fitnah, dan dapat memelihara agamanya. Perempuan-perempuan zaman Nabi pun ada yang sampai terlibat langsung dengan aktivitas peperangan, seperti Ummu Salamah(istri Nabi), Shafiyah, Laila Al-Ghaffariyah, dan Ummu Sinam Al-Aslamiyah. Mereka bahu-membahu dengan kaum pria dalam bekerja sama.
Perempuan dapat melakukan pekerjaan apapun selama dia membutuhkannya atau pekerjaan itu membutuhkannya, seperti bidan yang dapat membantu proses kelahiran bayi, asalkan sesuai dengan norma agama dan asusila. Melalui pengetahuan dan ketrampilannya, perempuan juga berhak menempati jabatan tertentu dalam pekerjaannya.

4. Hak-hak Konstitusi
– Bidang Politik
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka adalah awliya’ bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh untuk mengerjakan yang ma’ruf, mencegah yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”(At-Taubah:71). Ayat tersebut merupakan ayat yang seringkali dikaitkan dengan hak-hak politik kaum perempuan sebagai gambaran tentang kewajiban melakukan kerjasama antar lelaki dan perempuan dalam berbagai bidang kehidupan yang dilukiskan dengan kalimat peintah menyuruh untuk mengerjakan perkara ma’ruf dan mencegah kemunkaran.
– Bidang hukum
Islam memberikan perempuan hak sebagai saksi dalam proses penyelesaian suatu masalah hukum.

Persamaan Hak Wanita dan Laki-Laki
Allah swt tidak membedakan nilai penghambaan hambanya baik lelaki maupun perempuan. Banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan masalah ini. Berikut penjelasannya:
1. Persamaan dalam Penciptaan
Allah swt berfirman bahwa manusia diciptakan dari satu “jiwa”: “Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya.” (QS. Al-A’raaf [7]:189)
Allah swt juga berfirman: “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.” (QS. An-Nisaa’ [4]:1)
Masih banyak lagi ayat-ayat serupa yang menjadi bukti bahwa menurut Islam lelaki dan perempuan memiliki martabat insani yang sama di sisi Tuhan.
2. Persamaan dalam Nilai Spiritual
Nilai spiritual lelaki dan perempuan adalah sama. Lelaki dan perempuan keduanya sama-sama tercakup dalam ayat yang berbunyi: “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam” (QS. Al-Israa’ [17]:70) Yakni keduanya mendapatkan kemuliaan esensial dari Allah swt. Lalu di antara lelaki dan perempuan, siapapun yang berusaha meningkatkan nilai spiritualnya, maka ialah yang tertinggi di mata Tuhan. Berikut adalah persamaan hak wanita dan laki-laki dalam hal nilai spiritual:
a. Dalam Ketakwaan
Allah swt berfirman: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.” (QS. Al-Hujuraat [49]:13)
Dalam ayat tersebut Allah swt menjelaskan bahwa tolak ukur yang dapat membedakan kemulian manusia satu sama lainnya baik perempuan maupun lelaki adalah ketakwaan.
b. Dalam Amal Saleh
Allah swt berfirman: “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik” (QS. An-Nahl [16]:97)
Allah swt. juga berfirman: “Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.” (QS. An-Nisaa’ [4]:124)
Ayat-ayat di atas menjelaskan bahwa manusia, tak ada beda baik lelaki dan perempuan. Semakin banyak mereka melakukan amal saleh maka semakin tinggi derajatnya.
c. Dalam Taklif dan Kewajiban
Dalam Al-Qur’an juga dijelaskan bahwa lelaki dan perempuan keduanya sama-sama memiliki tugas dan kewajiban dari Allah swt dan tidak ada beda antara mereka.
Seperti yang dimuat pada ayat-ayat berikut ini:
“Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat.” (QS. Al-Baqarah [2]:110)
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al-Baqarah [2]: 183)
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An-Nisaa’ [4]:59)
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (QS. An-Nuur [24]:31)
“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah.” (QS. Al-Maa’idah [5]:38)
“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera.” (QS. An-Nuur [24]:2)
Di ayat-ayat tersebut Allah swt berbicara kepada manusia tanpa melihat perbedaan antara lelaki dan perempuan. Semuanya memiliki kewajiban yang sama terhadap-Nya.
d. Dalam Menuntut Ilmu
Allah swt berfirman: “…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujaadalah [58]:11)
Allah swt tidak membeda-bedakan derajat yang diberikan kepada lelaki dan perempuan karena menuntut ilmu.
Rasulullah saw bersabda: “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi tiap Muslim dan Muslimah.”
Dengan penjelasan yang diberikan ayat-ayat Al-Qur’an di atas dapat di-ahami bahwa sebenarnya tidak ada perbedaan esensial antara lelaki dan perempuan, apa lagi berkaitan dengan nilai-nilai spiritual keduanya.

Tokoh Teladan Wanita dalam Islam
1. Aisyah r.a
Aisyah adalah seorang wanita berparas cantik berkulit putih, sebab itulah ia sering dipanggil dengan “Humaira”. Selain cantik, ia juga dikenal sebagai seorang wanita cerdas yang Allah swt. telah mempersiapkannya untuk menjaid pendamping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengemban amanah risalah yang akan menjadi penyejuk mata dan pelipur lara bagi diri beliau.
Selain menjadi seorang pendamping setiap yang selalu siap memberi dorongan dan motivasi kepada suami tercinta di tengah beratnya medan dakwah dan permusuhan dari kaumnya, Aisyah juga tampil menjadi seorang penuntut ilmu yang senantiasa belajar dalam madrasah nubuwwah di mana beliau menimba ilmu langsung dari sumbernya. Beliau tercatat termasuk orang yang banyak meriwayatkan hadits dan memiliki keunggulan dalam berbagai cabang ilmu di antaranya ilmu fikih, kesehatan, dan syair Arab. Setidaknya sebanyak 1.210 hadits yang beliau riwayatkan telah disepakati oleh Imam Bukhari dan Muslim dan 174 hadits yang hanya diriwayatkan oleh Imam Bukhari serta 54 hadits yang hanya diriwayatkan oleh Imam Muslim. Sehingga pembesar para sahabat kibar tatkala mereka mendapatkan permasalahan mereka datang dan merujuk kepada Ibunda Aisyah.
2. Fathimah Az-Zahra putri Rasullullah SAW dan istri Ali bin Abi Thalib. Ia adalah yang paling mirip dengan Rasulullah SAW baik rupa ataupun budi pekertinya. Rasulullah melalui cara mendidik Fathimah Az-Zahra mengajarkan kepada umat manusia bagaimana seharusnya perempuan diperlakukan. “Fathimah adalah belahan jiwaku, menyakitinya berarti menyakitiku”. Ini adalah penegasan Nabi SAW tentang kedudukan Fathimah di hati beliau. Fathimah Az Zahra adalah perempuan yang lahir, hidup dan tumbuh dalam haribaan Allah Swt dan kenabian Muhammad Saw.
Pernikahannya dengan Ali bin Abi Thalib ra, merupakan perintah dan wahyu dari Allah SWT serta dikaruniai anak-anak shaleh yaitu Hasan, Husein, Zaenab dan Ummu Kultsum. Sosok Sayyidah Fathimah adalah perempuan yang patut dijadikan teladan dalam hal sebagai seorang istri, hubungan baik dengan kerabat dan tetangganya, menunaikan tugas-tugas keibuan, serta memberi pedoman pendidikan Islam bagi anak-anaknya. Ini adalah teladan yang sempurna bagi perempuan yang penuh perjuangan dalam memperjuangkan hak-hak orang tertindas, menjaga dan mendidik sepanjang zaman, kapan pun dan di mana pun. Beliau adalah pemudi teladan, istri teladan dan figur yang paripurna bagi seorang wanita. Sehingga beliau dikenal dengan sebutan “Sayyidatun Nisa’il ‘Alamin”, yakni penghulu wanita alam semesta.
3. Sayyidah Khadijah binti Khuwailid, dengan julukan Ummul Mukminim (ibu kaum beriman), perempuan yang menjadi istri pertama Rasulullah SAW dan paling dicintai pada masa hidup hingga wafatnya. Kedermawanan seorang Sayyidah Khadijah tampak dalam dukungannya terrhadap misi kenabian suaminya. Seluruh harta, waktu, bakat, energi dan spirit serta hatinya yang dimiliki diberikannya demi kelangsungan gerakan Islam. Beliau adalah ibu dari perempuan mulia Sayiddah Fathimah az-Zahra. Seorang ibu ideal yang mendidik seorang putri ideal pula. Sayyidah Khadijah berdasarkan riwayat merupakan gambaran perempuan dengan jiwa paripurna. Beliau adalah perempuan yang tegak berdiri di sisi Rasulullah SAW, perempuan senantiasa mendampingi Rasulullah dalam melakukan syiar Islam. Rasulullah bersabda : “Demi Allah, sungguh Allah tidak memberikan gantinya yang lebih baik kepadaku. Dia beriman kepadaku, disaat-saat orang lain sama mendustakanku, dia menolong perjalananku dengan hartanya, disaat-saat orang lain tak mau memberikannya kepadaku… darinyalah aku mendapatkan keturunan”.
4. Sayyidah Maryam as. yang merupakan ibu dari Nabi Isa as. Seorang perempuan yang merupakan simbol kesucian diri dari berbagai perbuatan hina. “Sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala perempuan di dunia (yang semasa dengan kamu)” (QS. Ali-‘Imran: 42). Al-Quran mengisahkan seorang Sayyidah Maryam as. “Dan ingatlah Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya, maka kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari (ruh) ciptaan Kami, dan dia membenarkan kalimat Tuhan dan kitab-kitabNya. Dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat”. (QS. At-Tahrim ayat 12), lebih lanjut dalam QS. Maryam ayat 16-19 diceritakan tentang percakapan yang terjadi antara Malaikat dan Maryam. Kedatangan Malaikat ini dalam rangka memberikan kabar gembira pada Maryam. Setidaknya ada dua hal yang disampaikan oleh Malaikat kepada Maryam. Sayyidah Maryam merupakan perempuan terpilih dalam menjalankan dan menyampaikan misi dari Allah SWT. Sayyidah Maryam dipilih sebagai perempuan yang akan melahirkan Isa, meski tanpa adanya seorang ayah yang kelak akan menjadi seorang nabi. Terpilihnya Sayyidah Maryam sebagai perempuan suci bukan tanpa melalui perjuangan, ia berjuang menjaga kehormatan dan kesucian diri karena ketaatannya kepada Allah SWT.
5. Ibunda, kakak perempuan Nabi Musa as, dan Sayyidah Asiyah istri Fir’aun. Mereka adalah perempuan-perempuan yang berada di sekeliling Nabi Musa as. Dengan ketaatan kepada Allah SWT. Mereka dengan perjuangan menjaga dan mendidik Nabi Musa as. hingga dewasa. Kehidupan perempuan-perempuan ini dijelaskan dalam QS Al Qashash ayat 7 : “Dan Kami wahyukan kepada ibu Musa, susuilah dia dan apabila engkau khawatir terhadapnya, maka jatuhkalah ia ke sungai. Dan janganlah engkau khawatir dan jangan bersedih hati, karena sesungguhkan Kami akan mengembalikannya kepadamu dan menjadikannya dari para rasul.” Seorang ibu yang karena ketaatan-Nya akan perintah Allah SWT melempar buah hatinya ke sungai. Serta memerintahkan kepada anak perempuannya untuk mengikuti peti dan memerhatikannya hingga ke akhir perjalanan. Sebuah tugas berat yang diemban oleh anak perempuan (kakak nabi Musa as.) demi menjaga keselamatan adiknya.
“Dan berkatalah ibu Musa kepada saudara Musa yang perempuan ‘ikutilah dia’. Maka kelihatanlah olehnya Musa dari jauh, sedang mereka tidak mengetahuinya” (QS. Al-Qashash ayat 11).
Seorang istri Fir’aun yang mengasuh nabi Musa as, dan membebaskannya dari kezaliman Fir’aun untuk membunuh anak laki-laki pada zaman itu termasuk nabi Musa as.
“Berkatalah istri Fir’aun (kepada suaminya), ‘(anak ini adalah penyejuk mata bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya. Mudah-mudahan Ia bermanfaat untuk kita atau kita ambil ia menjadi anak’, sedang mereka tidak menyadarinya”. (QS. Al-Qashash ayat 9).
Kepada istri Fir’aun, Sayyidah Asiyah Allah Swt berfirman dalam QS At-Tahrim ayat 11 : “Dan Allah menjadikan istri Fir’aun (sebagai) perempuan bagi orang-orang yang beriman, ketika dia berkata, ‘Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku di sisiMu sebuah rumah dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim”. Sesuatu yang paling utama dimiliki oleh istri Fir’aun adalah keutamaannya dalam memanjatkan doa kepada Allah. Dalam memanjatkan doa, Sayyidah Asiyah senantiasa mencerminkan prinsip menjadikan Allah sebagai satu-satunya Pelindung (tawalli’) dan sikap berlepas diri dari musuh-musuh-Nya (tabarri) .

Thank you for visit this blog
Leave the comment,guys 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s