​Wali Songo dan Perannya dalam menyebarkan Islam

​Wali Songo dan Perannya dalam menyebarkan Islam

A.  Sejarah Singkat Walisongo

1.      Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik)

Maulana Malik Ibrahim biasa dipanggil  Syekh Magribi. Malik Ibrahim adalah wali tertua diantara walisongo yang menyiarkan islam di Jawa Timur pastinya di Gresik.Maulana Magribi datang kejawa pada tahun 1404 M. Beliau berasal dari desa Samarkandi di Asia kecil. Kehadiran beliau jauh sesudah masuknya agama islam di Jawa Timur. Hal ini dapat diketahui dari batu nisan wanita seorang muslim yang bernama Fatihah binti Maimun yang wafat pada tahun 476 H atau 1087 M. Malik Ibrahim ahli dalam bidang pertanian dan pengobatan yang biasa kalo sekarang orang bilang pengobatan herbal sejak beliau di Gresik pertanian kota Gresik naik tajam dan orang-orang yang sakit banyak disembuhkannya oleh beliau dengan daun-daunan tertentu atau sekarang disebut obat herbal. Malik Ibrahim menetap di Gresik dan membangun mesjid, pesantren untuk mengajarkan agama islam kepada umatnya kepada masyarakat hingga beliau wafat pada hari senin 12 Rabiul Awal 822 H /1419 M, dan dimakamkan di Gapura Wetan Gresik. Pada nisannya ada tulisan Arab yang menunjukan bahwa dia adalah seorang penyebar agama Islam yang gigih dan cakap.

2.      Raden Rahmat (Sunan Ampel)

Sunan Ampel dilahirkan pada tahun 1401 di champs. Setelah Syekh Maulana Ibrahim wafat maka Sunan Ampel diangkat menjadi sesepuh Walisongo sebagai mufti atau pemimpin agama Islam. Nama asil dari Sunan Ampel adalah Raden Rahmat. Sedangkan sebutan Sunan merupakan gelar kewaliannya. Sunan Ampel adalah penerus cita-cita dan perjuangan Maulana Malik Ibrahim. Ia memulai aktivitasnya dengan mendirikan pondok pesantren di Ampel Denta, dekat Surabaya yang sekaligus menjadi pusat penyebaran Islam yang pertama di Jawa. Di tempat inilah dididik pemuda-pemudi Islam sebagai anggota yang terdidik, untuk kemudian disebarkan ke berbagai tempat di seluruh pulau Jawa. Muridnya antara lain Raden Paku yang kemudian terkenal dengan sebutan Sunan Giri. Sunan Ampel sangat berpengaruh di kalangan istana Majapahit, bahkan isterinya pun berasal dari kalangan istana. Raden Fatah, putera Prabu Brawijaya, raja Majapahit, menjadi murid beliau. Dekatnya Sunan Ampel dengan kalangan istana membuat penyebaran Islam di daerah kekuasaan Majapahit, khususnya di pantai utara Pulau Jawa tidak mendapat hambatan yang berarti, bahkan mendapat restu dari penguasa kerajaan.Sunan Ampel tercatat sebagai perancang kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa dengan ibukota di Bintoro. Dan akhirnya Beliau wafat pada tahun 1478 . Dimakamkan disebelah barat Masjid Sunan Ampel.

3.      Raden Paku (Sunan Giri)

Sunan Giri dilahirkan pada tahun 1442. Sunan Giri  membangun Giri Kedaton sebagai pusat penyebaran agama Islam di Jawa yang pengaruhnya sampai ke Madura, Lombok, Kalimantan, Sulawesi dan bahkan sampai Maluku.Pengaruh Giru terus berkembang sampai menjadi kerajaan kecil yang yang disebut Giri Kedaton,setelah Ia wafat dimakamkan di desa Giri, Kebomas, Gresik.

4.      Raden Maknum Ibrahim (Sunan Bonang)

Sunan Bonang dilahirkan pada tahun 1465 Raden Maulana Makdum Ibrahim. Dia adalah Putra Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila. Sejak kecil Raden Makdum Ibrahim sudah diberi pelajaran agama Islam secara tekun dan disiplin. Disebutkan, sewaktu masih remaja Raden Makdum Ibrahim dan Raden Paku meneruskan pelajaran agama Islam hingga ke tanah seberang yaitu Negeri Pasai. Keduanya menambah pengetahuan kepada Syekh Awwalul Islam atau ayah kandung dari Sunan Giri. Dan juga belajar kepada para ulama besar yang banyak menetap di Negeri Pasai seperti ulama-ulama yang berasal dari Baghdad, Mesir, Arab, dan Pars. Sunan Bonang wafat pada tahun 1525 M dan makamnya berada di desa Bonang.

5.      Raden Qosim (Sunan Drajad)

Sunan Drajad dilahirkan pada tahun 1470 M. Nama kecilnya adalah Raden Qasim, dan beliau terkenal dengan kecerdasannya, beliau menyebarkan agama Islam di desa Drajat sebagai tanah perdikan di kecamatan Paciran. Tempat ini diberikan oleh kerajaan Demak.

6.      Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati)

Syarif Hidayatullah lahir sekitar 1450 M, namun ada juga pendapat yang lain bahwa beliau lahir sekitar 1448 M. Sunan Gunung Jati adalah salah satu dari kelompok besar ulama. Beliau merupakan satu-satunya penyebar agama Islam di Jawa Barat.

7.      Raden Jafar Sadiq (Sunan Kudus)

Sunan Kudus lahir pada 9 September 1400 M. Sunan Kudus lahir di Kudus Jawa Tengah. Beliau adalah penyebar agama Islam di Indonesia yang tergabung dalam Walisongo dan beliau meninggal pada 5 mei 1550 M. Runtuhnya kerajaan Hindu-Jawa dan timbulnnya negara-negara Islam di Nusantara. Cara Sunan Kudus mendekati masyarakat Kudus adalah dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Budha. Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang dan pancuran atau padasan wudhu yang melambangkan delapan jalan Budha.Sebuah wujud kompromi yang dilakukan Sunan Kudus.Bapaknya Sunan Kudus adalah putra Sultan di Palestina yang bernama Sayyid Fadhal Ali Murtahza. Beliau meniggal dalam keadaan bersujud ketika sholat subuh.

8.      Raden Said (Sunan Kalijaga)

Sunan Kalijaga diperkirakan lahir pada tahun 1450 dengan nama Raden Said. Beliau terkenal karena menyebarkan agama Islam melalui metode budaya Jawa atau disatu padukan ajaran-ajaran agama islam dengan budaya jawa, Sunan Kalijaga, merupakan “wali” yang namanya paling banyak disebut masyarakat Jawa. Ia lahir sekitar tahun 1450 Masehi. Ayahnya adalah Arya Wilatikta, Adipati Tuban -keturunan dari tokoh pemberontak Majapahit, Ronggolawe. Masa itu, Arya Wilatikta diperkirakan telah menganut Islam.Nama kecil Sunan Kalijaga adalah Raden Said. Ia juga memiliki sejumlah nama panggilan seperti Lokajaya,Syekh Malaya, Pangeran Tuban atau Raden Abdurrahman.Terdapat beragam versi menyangkut asal-usul nama Kalijaga yang disandangnya.Masyarakat Cirebon berpendapat bahwa nama itu berasal dari dusun Kalijaga di Cirebon. Sunan Kalijaga memang pernah tinggal di Cirebon dan bersahabat erat dengan Sunan Gunung Jati. Kalangan Jawa mengaitkannya dengan kesukaan wali ini untuk berendam (kungkum) di sungai (kali) atau “jaga kali”. Namun ada yang menyebut istilah itu berasal dari bahasa Arab “qadli dzaqa” yang menunjuk statusnya sebagai ” penghulu suci” kesultanan.Van Den Berg menyatakan bahwa Sunan Kalijaga merupakan keturunan Arab yang silsilahnya sampai kepada Rasulullah Shallallahualaihiwasallam Beliau wafat di Desa Kadilangu dekat dengan kota Demak.

9.      Raden Umar Said (Sunan Muria)

Raden Umar Said diperkirakan lahir pada abad ke-15. Sunan Muria adalah salah seorang walisongo yang banyak berjasa dalam menyiarkan agama Islam di pedesaan Pulau Jawa. Ia adalah putra Sunan Kalijaga. Nama aslinya Raden Umar Said atau Raden Said. Sedang nama kecilnya adalah Raden Prawoto, namun ia lebih terkenal dengan nama Sunan Muria karena pusat kegiatan dakwahnya dan makamnya terletak di Gunung Muria. Beliau wafat diperkirakan pada abad ke-15.

B.  Peran Walisongo Dalam Berbagai Bidang

Dari gambaran singkat tentang perjalanan hidup dan perjuangan walisongo dalam menyebarkan agama Islam di daerah Jawa, khususnya dan di wilayah nusantara pada umumnya, maka peran mereka dapat dibentuk seperti Bidang Pendidikan, Bidang Politik dan yang paling terkenal adalah Bidang Dakwah. Dan dikalisifisikan menjadi:

1.      Bidang Pendidikan

Peran walisongo di bidang pendidikan terlihat dari aktivitas mereka dalam mendirikan pesantren, sebagaimana yang dilakukan oleh Sunan Ampel, Sunan Giri, dan Sunan Bonang. Sunan Ampel mendirikan pesantren di Ampel Denta yang dekat dengan Surabaya yang sekaligus menjadi pusat penyebaran Islam yang pertama di Pulau Jawa. Di tempat inilah, ia mendidik pemuda-pemudi Islam sebagai kader, untuk kemudian disebarkan ke berbagai tempat di seluruh Pulau Jawa. Muridnya antara lain Raden Paku (Sunan Giri), Raden Makdum Ibrahim (Sunan Bonang), Raden Kosim Syarifuddin (Sunan Drajat), Raden Patah (yang kemudian menjadi sultan pertama dari Kerajaan Islam Demak), Maulana Ishak, dan banyak lagi mubalig yang mempunyai andil besar dalam islamisasi Pulau Jawa. Sedangkan Sunan Giri mendirikan pesantren di daerah Giri. Santrinya banyak berasal dari golongan masyarakat ekonomi lemah. Ia mengirim juru dakwah terdidik keberbagai daerah di luar Pulau Jawa seperti Madura, Bawean, Kangean, Ternate dan Tidore. Sunan Bonang memusatkan kegiatan pendidikan dan dakwahnya melalui pesantren yang didirikan di daerah Tuban. Sunan Bonang memberikan pendidikan Islam secara mendalam kepada Raden Fatah, putera raja Majapahit, yang kemudian menjadi sultan pertama Demak. Catatan-catatan pendidikan tersebut kini dikenal dengan Suluk Sunan Bonang.

2.      Bidang Politik

Pada masa pertumbuhan dan perkembangan kerajaan-kerajaan Islam di Jawa, Walisongo mempunyai peranan yang sangat besar. Di antara mereka menjadi penasehat Raja, bahkan ada yang menjadi raja, yaitu Sunan Gunung Jati. Sunan Ampel sangat berpengaruh dikalangan istana Majapahit. Istrinya berasal dari kalangan istana dan Raden Patah (putra raja Majapahit) adalah murid beliau. Dekatnya Sunan Ampel dengan kalangan istana membuat penyebaran Islam di daerah Jawa tidak mendapat hambatan, bahkan mendapat restu dari penguasa kerajaan. Sunan Giri fungsinya sering dihubungkan dengan pemberi restu dalam penobatan raja. Setiap kali muncul masalah penting yang harus diputuskan, wali yang lain selalu menantikan keputusan dan pertimbangannya. Sunan Kalijaga juga menjadi penasehat kesultanan Demak Bintoro.

3.      Bidang Dakwah.

Sudah jelas sepertinya, peran Walisongo cukup dominan adalah di bidang dakwah, baik dakwah melalui  lisan. Sebagai mubalig, Walisongo berkeliling dari satu daerah ke daerah lain dalam menyebarkan agama Islam. Sunan Muria dalam upaya dakwahnya selalu mengunjungi desa-desa terpencil. Salah satu karya yang bersejarah dari walisongo adalah mendirikan mesjid Demak. Hampir semua walisongo terlibat di dalamnya. Adapun sarana yang dipergunakan dalam dakwah berupa pesantren-pesantren yang dipimpin olehpara Walisongo dan melalui media kesenian, seperti wayang. Mereka memanfaatkan pertunjukan-pertunjukan tradisional sebagai media dakwah Islam, dengan membungkuskan nafas Islam ke dalamnya. Syair dari lagu gamelan ciptaan para wali tersebut berisi pesan tauhid, sikap menyembah Allah dan tidak menyekutukanya atau menyembah yang lain.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s